5 Penyebab Hasil Botoks Terlihat Tidak Natural, Dokter Ungkap Kesalahan yang Paling Sering Terjadi

5 Penyebab Hasil Botoks Terlihat Tidak Natural, Dokter Ungkap Kesalahan yang Paling Sering Terjadi

Faktaindonesianews.com – Keinginan untuk tampil lebih segar dan awet muda membuat banyak orang melirik prosedur botoks. Namun di balik itu, kekhawatiran soal hasil yang tampak kaku, aneh, atau tidak natural masih kerap muncul. Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Arini Astasari menegaskan bahwa hasil botoks yang baik justru harus terlihat alami, bukan membuat wajah seperti tidak bisa bergerak.

“Sebagai dermatologis, saya sering mendapati pasien yang takut dengan hasil botoks yang kaku atau gagal. Padahal tujuan botoks adalah membuat wajah terlihat segar dan natural,” ujar Arini dalam penjelasannya, Selasa (25/11).

Bacaan Lainnya

Ia kemudian membeberkan sejumlah penyebab yang membuat hasil botoks berubah menjadi tidak natural atau bahkan dianggap gagal. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Dosis Berlebihan

Arini menjelaskan bahwa overdosing adalah penyebab paling umum dari tampilan botoks yang kaku. Jika unit botoks diberikan terlalu banyak, otot bisa lumpuh sepenuhnya sehingga ekspresi wajah menghilang.

“Terlalu banyak unit botoks akan melumpuhkan otot secara total sehingga menghilangkan ekspresi wajah. Inilah yang menciptakan tampilan datar dan tidak bernyawa,” tuturnya.

Prinsip utama botoks seharusnya melemahkan otot secukupnya, bukan mematikan seluruh ekspresi wajah.

2. Teknik dan Lokasi Suntikan Tidak Tepat

Botoks bukan hanya prosedur suntik biasa, tetapi memerlukan ketelitian tinggi dan pemahaman anatomi otot wajah.

“Dokter harus memahami betul bagaimana otot wajah bekerja dan bagaimana mereka saling menyeimbangkan. Meleset beberapa milimeter saja bisa menciptakan ekspresi aneh seperti alis ‘spock’,” jelas Arini.

Kesalahan teknik dapat menyebabkan wajah tampak asimetris, tidak seimbang, atau menampilkan ekspresi yang terasa aneh.

3. Mengabaikan Keunikan Anatomi Wajah Pasien

Setiap orang memiliki struktur wajah, kekuatan otot, dan pola ekspresi yang berbeda. Inilah alasan hasil botoks tidak bisa dilakukan dengan pendekatan satu pola untuk semua.

“Apa yang cocok untuk satu orang belum tentu cocok untuk yang lain. Dokter harus menyesuaikan treatment dengan anatomi masing-masing pasien,” ungkapnya.

Jika botoks dilakukan tanpa analisis mendalam, hasilnya bisa tampak janggal atau tidak proporsional.

4. Salah Menargetkan Area yang Diperbaiki

Botoks hanya efektif untuk kerutan dinamis—yakni kerutan yang muncul saat wajah bergerak. Jika digunakan pada kerutan statis seperti lipatan nasolabial, hasilnya pasti mengecewakan.

“Untuk kerutan statis, kombinasi filler, laser, atau treatment lain lebih sesuai,” jelas Arini.

Kesalahan memilih target membuat pasien merasa botoks tidak bekerja atau tampilan wajah tidak berubah sesuai harapan.

5. Botoks Tidak Bekerja Sama Sekali

Ada pula kasus ketika botoks sama sekali tidak memberikan efek. Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya:

  • tubuh membentuk antibodi terhadap protein botoks (meski jarang terjadi),

  • dosis yang diberikan terlalu rendah,

  • produk botoks palsu atau kedaluwarsa sehingga tidak aktif.

Arini menekankan bahwa kunci hasil botoks yang baik terletak pada prinsip sederhana.

“Tujuannya adalah melemahkan otot, bukan melumpuhkannya total. Dengan pendekatan ‘less is more’, hasilnya akan lebih halus, natural, dan sesuai harapan,” tegasnya.

Pos terkait