Faktaindonesianews.com – Kedekatan antara kakek-nenek dan cucu sering kali terjalin lewat interaksi sederhana sehari-hari, mulai dari bercanda hingga berbagi cerita. Namun di balik kehangatan itu, ada beberapa ucapan yang terdengar biasa bagi orang dewasa, tetapi ternyata bisa menimbulkan dampak kurang baik bagi anak.
Perbedaan generasi menjadi salah satu penyebab utama. Nilai dan pola asuh yang dulu dianggap wajar, kini bisa dimaknai berbeda oleh anak-anak zaman sekarang. Bahkan, sebagian ucapan yang dulu dianggap bentuk perhatian, kini bisa dianggap tidak sensitif atau bahkan “toxic”.
Psikolog anak Ann-Louise Lockhart menegaskan bahwa penting bagi orang dewasa untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi dengan anak. Menurutnya, kata-kata yang diucapkan bisa memengaruhi cara anak memandang diri sendiri dan hubungan dengan keluarga.
Berikut beberapa ucapan yang sebaiknya dihindari:
1. “Jangan kasih tahu orang tuamu…”
Kalimat ini sering diucapkan saat memberi sesuatu secara diam-diam, seperti permen atau hadiah kecil. Namun, menurut psikolog klinis Zainab Delawalla, kebiasaan ini bisa berbahaya.
Ucapan tersebut dapat melemahkan kepercayaan anak terhadap orang tua dan membentuk pola pikir bahwa menyembunyikan sesuatu adalah hal yang wajar. Dalam jangka panjang, ini berpotensi membahayakan anak jika mereka menghadapi situasi yang lebih serius.
2. Komentar soal fisik: “Kok kurus?” atau “Kok gemuk?”
Meski sering dianggap sebagai bentuk perhatian, komentar tentang tubuh bisa berdampak besar pada kepercayaan diri anak. Anak bisa merasa tidak cukup baik atau mulai meragukan penampilannya sendiri.
Sebagai gantinya, lebih baik menunjukkan perhatian melalui pertanyaan positif seperti hobi atau aktivitas yang sedang mereka sukai.
3. “Sini peluk” atau “Sini cium!”
Ungkapan ini memang penuh kasih sayang, tetapi tidak semua anak merasa nyaman dengan kontak fisik. Psikoterapis Andrea Dorn menjelaskan bahwa memaksa anak untuk berpelukan atau mencium dapat mengaburkan pemahaman mereka tentang batasan diri (consent).
Lebih baik ubah menjadi pertanyaan, seperti: “Boleh nenek peluk?” sehingga anak belajar bahwa mereka punya hak atas tubuhnya sendiri.
4. “Kamu manja banget…”
Ucapan ini sering keluar saat anak menangis atau merengek. Padahal, menurut psikolog klinis Ryan Howes, perilaku anak tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada mereka.
Label “manja” justru bisa membuat anak merasa tidak dipahami. Lebih baik cari tahu penyebab emosinya atau komunikasikan dengan orang tua mereka.
5. “Orang tuamu salah…”
Perbedaan pola asuh antar generasi memang tak terhindarkan. Namun, mengkritik orang tua di depan anak dapat membingungkan mereka dan merusak rasa hormat terhadap orang tua.
Sebaiknya, jika ada perbedaan pandangan, diskusikan langsung dengan orang tua, bukan melalui anak.
Dalam membangun hubungan yang sehat, kakek-nenek tetap memiliki peran penting sebagai sosok penuh kasih. Namun, penting untuk menyadari bahwa cara berkomunikasi juga harus menyesuaikan perkembangan zaman dan kebutuhan emosional anak.






