Namun keberanian melapor masih lemah, karena takut terhadap figur kepala desa yang punya kuasa administratif dan sosial.
Sebagaimana dikatakan beberapa tokoh masyarakat di Sumedang, Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya:
“Kami ingin desa maju, bukan kadesnya yang maju ke luar negeri pakai uang desa.”
Kalimat itu menyentil, sekaligus menggambarkan kelelahan warga yang muak dengan manipulasi berlapis.
Dana Desa sejatinya adalah darah pembangunan tapi bila darah itu dicuri oleh akal bulus oknum kades karbitan, maka yang mengalir di tubuh desa bukan lagi kehidupan, melainkan penyakit kronis bernama ketamakan.
Dan ketika penyimpangan dianggap kelaziman, maka “pembangunan” hanya jadi dalih indah untuk menutupi borok yang bernanah.
Jawa Barat layak dijadikan barometer nasional penyelewengan gaya baru: penyelewengan yang tersenyum dalam rapat, berfoto dalam laporan, dan rapi dalam sistem tapi busuk dalam niat.
Jika tidak segera dibersihkan dengan integritas dan partisipasi publik, Dana Desa akan terus jadi lahan empuk bagi kades karbitan yang menjadikan kekuasaan sebagai ladang pribadi.
Ingat kawan, beras yang kita makan hari ini, bukan padi hasil panen tadi pagi.
(djohar)
