Jakarta, Faktaindonesianews.com – Ketika seorang istri koruptor masih berjuang menuntut deposito dan tas mewah, sesungguhnya bukan hanya moral pribadi yang runtuh—tapi juga harga diri sebuah negara. Kita hidup di negeri yang aneh : *”rakyat diharuskan jujur meski lapar, sementara para penjarah uang rakyat masih bisa bergaya di atas penderitaan publik.”* (bisakan Om di bold/kalimat tsb tetap tebal)
Sandra Dewi mungkin hanya satu nama dalam daftar panjang drama korupsi yang melibatkan kemewahan, cinta, dan pengkhianatan terhadap amanah publik. Tetapi yang lebih menyakitkan bukanlah kisah pribadinya—melainkan cara negara menatapnya dengan mata dingin tanpa rasa malu.
Negara yang sejatinya pelindung moral publik kini terlihat seperti penonton pasif dalam teater kemewahan hasil kejahatan.
Apakah kita masih punya rasa malu sebagai bangsa?
Apakah aparat masih punya keberanian untuk berkata: cukup sudah, uang rakyat bukan warisan keluarga?
Sebab di negeri ini, koruptor bisa menua dengan damai. Hukum berjalan pelan, penuh kompromi, sementara empati sosial menguap di antara pesta pora dan citra mewah di layar kaca. Ironisnya, publik seolah mulai terbiasa. Kita mentolerir kebusukan karena sudah terlalu sering mencium baunya.
Di sinilah tragedi itu bermula:
Ketika rasa malu sudah mati, keadilan tinggal upacara, dan negara hanya pandai membuat narasi “penegakan hukum” sambil membiarkan tikus-tikus berdasi menikmati hasil rampokan.
Kita tidak sedang membicarakan satu perempuan yang kehilangan akal sehat karena cinta dan kemewahan. Kita sedang membicarakan sebuah bangsa yang kehilangan malu, dari istana hingga ruang sidang, dari birokrasi hingga rumah-rumah megah hasil korupsi.
Bangsa yang kehilangan malu akan kehilangan masa depannya.
Dan jika hari ini negara masih menatap kasus-kasus seperti ini tanpa gemetar, maka yang sedang runtuh bukan hanya hukum—melainkan martabat kita sebagai manusia yang berakal dan beriman./*djohar*
