Ciamis, Faktaindonesianews.com – Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Pendidikan meminta seluruh satuan pendidikan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah tersebut. Seruan ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, saat membuka kegiatan Pengenalan dan Implementasi Deep Learning di Auditorium STIKes Muhammadiyah Ciamis pada Senin (24/11/2025).
Erwan menegaskan bahwa keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik menjadi prioritas utama. Ia memastikan komunikasi intensif telah dilakukan dengan sekolah-sekolah untuk memantau kondisi bangunan serta lingkungan sekolah secara berkala.
“Secara lisan, kita sudah melakukan koordinasi kepada seluruh satuan pendidikan. Namun kita tetap harus tenang dalam menjalankan aktivitas belajar. Keselamatan siswa menjadi prioritas utama, dan jika ada yang terdampak wajib segera melapor,” ujar Erwan.
10 Persen Ruang Kelas Rusak Berat, SD Jadi yang Terbanyak
Merujuk pada data Data Pokok Pendidikan (Dapodik), Erwan menyampaikan bahwa sekitar 10 persen ruang kelas di Kabupaten Ciamis mengalami kerusakan berat. Kerusakan paling banyak ditemukan pada jenjang Sekolah Dasar (SD).
Ia memastikan data kerusakan infrastruktur tersebut telah dilaporkan ke pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten sebagai dasar pengajuan perbaikan dan intervensi.
“Dari total sekolah yang mengalami rusak berat, persentasenya mencapai sepuluh persen. Kondisi ini terus kami laporkan agar segera mendapatkan penanganan,” jelasnya.
PGRI Ciamis Bentuk Satgas Bencana Pendidikan
Menindaklanjuti arahan tersebut, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ciamis bergerak cepat dengan menginisiasi pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Bencana Pendidikan. Satgas ini nantinya akan bekerja sama dengan BPBD Ciamis untuk mempercepat penanganan darurat ketika terjadi bencana di lingkungan sekolah.
Ketua PGRI Ciamis, Apih Edi, menyebutkan bahwa penyusunan mekanisme kerja Satgas saat ini masih dalam proses finalisasi. Ia berharap langkah ini dapat membantu menjamin proses pembelajaran tetap berjalan meskipun kondisi cuaca tidak menentu.
“Setiap koordinator wilayah (korwil) akan saling membantu ketika terjadi bencana di wilayah pendidikan. Harapan kami, kegiatan belajar tetap berjalan,” ungkap Apih.
Selain mitigasi teknis, Apih juga menekankan pentingnya peran emosional dan mental para tenaga pendidik dalam menghadapi kondisi krisis.
“Guru harus menjadi penerang dalam kegelapan, menenangkan di setiap keadaan, dan menjadi panutan. Jadilah guru yang digugu dan ditiru,” pungkasnya.
