Faktaindonesianews.com – Bencana gempa bumi berkekuatan besar yang mengguncang wilayah selatan Filipina tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memicu perubahan geologis yang signifikan di kawasan pesisir. Gempa berkekuatan Magnitudo 7,8 yang terjadi di Pulau Mindanao pada 8 Juni 2026 dilaporkan menyebabkan dasar laut terangkat hingga sekitar dua meter, memunculkan fenomena yang dikenal sebagai coastal uplift atau pengangkatan wilayah pesisir.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian para ilmuwan dan otoritas lingkungan karena berdampak langsung terhadap ekosistem laut yang selama ini berada di bawah permukaan air. Selain menewaskan sedikitnya 61 orang, gempa tersebut juga menyebabkan puluhan warga lainnya masih dinyatakan hilang. Getaran gempa bahkan dirasakan hingga ke sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Sulawesi Utara.
Fenomena pengangkatan dasar laut mulai terdeteksi setelah warga pesisir melaporkan perubahan drastis pada garis pantai. Hanya dua hari setelah gempa terjadi, masyarakat setempat melihat area yang sebelumnya tertutup air laut kini berubah menjadi daratan yang terlihat jelas. Di beberapa lokasi, garis pantai bahkan dilaporkan bergeser hingga 200 meter ke arah laut, menciptakan pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurut penjelasan para ahli dari Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina, pergeseran yang terjadi pada Palung Cotabato menjadi pemicu utama naiknya sebagian wilayah pesisir di Provinsi Sarangani dan Davao Occidental. Palung bawah laut yang berada sekitar 50 kilometer dari pesisir Mindanao itu memang dikenal sebagai salah satu zona seismik paling aktif di Filipina.
Tim pemantau yang diterjunkan ke lokasi menemukan banyak area terumbu karang dan padang lamun yang kini terbuka akibat surutnya permukaan laut secara permanen. Kondisi tersebut menimbulkan ancaman serius bagi keberlangsungan kehidupan laut karena organisme yang selama ini bergantung pada lingkungan bawah air kini terpapar langsung oleh sinar matahari dan udara terbuka.
Foto-foto yang dirilis oleh Departemen Lingkungan Hidup Filipina menunjukkan hamparan terumbu karang yang mengering, ikan-ikan mati, serta berbagai biota laut lainnya yang terdampar di permukaan. Para ahli mengkhawatirkan dampak ekologis jangka panjang yang dapat terjadi apabila kondisi tersebut terus berlangsung tanpa adanya pemulihan alami.
Tidak hanya kerusakan ekosistem yang menjadi perhatian. Warga setempat juga mengaku khawatir dengan kemungkinan munculnya bau tidak sedap dan gangguan kesehatan akibat pembusukan organisme laut yang mati dalam jumlah besar. Sejumlah komunitas pesisir telah melaporkan perubahan kondisi lingkungan yang cukup drastis sejak gempa terjadi.
Departemen Lingkungan Hidup Filipina menyebut bahwa terumbu karang, padang lamun, ikan karang, belut, kerang, hingga berbagai jenis siput laut kini berada dalam kondisi terancam. Ketika habitat tersebut kehilangan pasokan air laut yang memadai, tingkat kematian organisme diperkirakan akan terus meningkat.
Hingga saat ini, pemerintah Filipina masih melakukan survei dan pemantauan untuk mengetahui seberapa luas wilayah yang terdampak oleh fenomena coastal uplift tersebut. Proses pencarian korban hilang akibat gempa juga terus dilakukan oleh tim penyelamat di sejumlah lokasi yang mengalami kerusakan parah.
