Faktaindonesianews.com – Terobosan besar di dunia biologi sintetis kembali mencuri perhatian. Tim ilmuwan yang dipimpin Kate Adamala, profesor sekaligus pakar biologi sintetis dari Universitas Minnesota, mengumumkan keberhasilan menciptakan sel buatan yang dirakit sepenuhnya dari komponen kimia non-hidup. Menariknya, sel sintetis tersebut mampu menyerap nutrisi, tumbuh, dan membelah diri, menyerupai perilaku sel alami.
Pencapaian ini dinilai sebagai salah satu langkah penting dalam upaya memahami bagaimana kehidupan pertama kali muncul di Bumi. Selain membuka wawasan baru mengenai asal-usul kehidupan, teknologi tersebut juga berpotensi menjadi dasar bagi pengembangan solusi terhadap berbagai persoalan biologis di masa depan.
Menurut Adamala, seluruh komponen penyusun sel buatan tersebut diketahui secara rinci. Mulai dari jenis molekul, bahan kimia yang digunakan, hingga konsentrasinya telah dirancang secara terukur, sehingga memungkinkan para peneliti melakukan rekayasa maupun modifikasi sesuai kebutuhan penelitian.
Ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut memberikan keuntungan besar dibandingkan mempelajari sel alami yang memiliki struktur jauh lebih kompleks. Dengan memahami setiap bagian penyusun sel sintetis, para ilmuwan dapat mengamati secara langsung bagaimana sebuah sistem biologis sederhana mampu menjalankan fungsi dasar kehidupan.
Sel buatan itu diberi nama SpudCell. Adamala sengaja memilih nama tersebut karena tidak ingin menggunakan namanya sendiri sebagai identitas penemuan. Nama SpudCell juga merupakan permainan kata yang terinspirasi dari Sputnik, satelit milik Uni Soviet yang menjadi simbol awal era penjelajahan luar angkasa pada dekade 1950-an.
Rincian mengenai pengembangan SpudCell telah dipublikasikan dalam sebuah naskah ilmiah yang dirilis pada awal Juli 2026. Meski demikian, penelitian tersebut masih menunggu proses peer review sebelum diterbitkan dalam jurnal ilmiah resmi.
Hanya Terdiri dari Ratusan Molekul
Salah satu hal yang membuat SpudCell istimewa adalah kesederhanaan strukturnya. Sel sintetis ini hanya tersusun atas sekitar 150 hingga 200 molekul, jumlah yang sangat kecil dibandingkan sel biologis alami yang dapat mengandung jutaan bahkan miliaran molekul.
Meski sederhana, SpudCell mampu menjalankan tiga fungsi dasar kehidupan, yaitu menyerap nutrisi, tumbuh, dan membelah diri. Dalam kondisi laboratorium, sel ini dapat berkembang hingga sekitar lima generasi sebelum akhirnya berhenti bereproduksi.
Adamala menggambarkan SpudCell sebagai organisme yang masih sangat sederhana. Aktivitas biologisnya sebagian besar hanya terbatas pada proses memperoleh nutrisi dan menghasilkan sel baru dalam kondisi tertentu.
Untuk melakukan pembelahan, setiap generasi membutuhkan suplai nutrisi dan waktu sekitar 12 jam pada suhu 30 derajat Celsius. Kecepatan tersebut memang masih jauh dibandingkan bakteri E. coli, yang mampu membelah diri setiap sekitar 30 menit.
Menggunakan Mekanisme Berbeda dari Sel Alami
Walaupun memiliki kemampuan membelah diri, mekanisme yang digunakan SpudCell berbeda dengan sel hidup pada umumnya.
Sel alami memanfaatkan sitoskeleton, yaitu kerangka internal yang membantu proses pembelahan sel. Namun, SpudCell tidak memiliki struktur tersebut. Sebagai gantinya, sel sintetis ini menghasilkan protein yang menumpuk pada membran sehingga menciptakan tekanan hingga dinding sel akhirnya terbelah menjadi dua bagian.
Selain itu, SpudCell juga belum mampu memproduksi ribosom, komponen penting yang berfungsi menghasilkan protein dalam sel hidup. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, para peneliti memasukkan ribosom milik bakteri E. coli melalui nutrisi yang diberikan kepada sel sintetis.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa SpudCell masih merupakan prototipe awal yang membutuhkan banyak penyempurnaan sebelum dapat berkembang menjadi sistem biologis yang lebih kompleks.
Fondasi Baru bagi Masa Depan Biologi Sintetis
Meski masih memiliki banyak keterbatasan, Adamala menilai keberhasilan menciptakan SpudCell merupakan fondasi penting bagi perkembangan biologi sintetis.
Dengan memahami cara membangun sel dari komponen paling dasar, para ilmuwan berharap dapat mengembangkan teknologi yang mampu menghasilkan sel dengan fungsi lebih kompleks. Di masa depan, pendekatan tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penelitian penyakit, produksi obat-obatan, pengembangan organisme sintetis, hingga solusi terhadap berbagai tantangan biologis global.
Penelitian ini juga membuka peluang untuk menjawab salah satu pertanyaan terbesar dalam ilmu pengetahuan, yakni bagaimana kehidupan pertama kali terbentuk dari materi yang sebelumnya tidak hidup.
