Faktaindonesianews.com – GERD pada anak sering kali tidak disadari karena dianggap hanya sebagai gumoh atau sakit perut biasa. Padahal, penyakit akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan ini dapat mengganggu proses tumbuh kembang, menurunkan berat badan, hingga meningkatkan risiko stunting apabila tidak ditangani sejak dini.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroentero-Hepatologi Anak Eka Hospital MT Haryono, Eva Jeumpa Soelaeman, menjelaskan bahwa GERD (gastroesophageal reflux disease) umumnya mulai ditemukan pada anak berusia di atas satu tahun. Berbeda dengan bayi yang masih sering gumoh karena saluran cerna belum matang, GERD pada anak yang lebih besar lebih sering dipicu oleh kebiasaan sehari-hari.
“GERD pada anak di atas satu tahun sering terjadi karena kebiasaan setelah makan langsung tidur, banyak melompat atau berlari, makan terlalu kenyang, hingga memakai celana yang terlalu ketat sehingga menekan perut,” ujar Eva dalam keterangannya, Rabu (22/7).
Perbedaan GER dan GERD pada Anak
Eva menegaskan bahwa banyak orang tua masih keliru membedakan antara GER (gastroesophageal reflux) dan GERD.
Pada bayi, gumoh akibat naiknya isi lambung merupakan kondisi normal yang disebut GER. Hal ini terjadi karena otot sfingter atau katup antara lambung dan kerongkongan belum berkembang sempurna sehingga biasanya akan membaik seiring pertambahan usia.
Sementara itu, GERD merupakan kondisi yang lebih serius karena refluks terjadi berulang kali hingga menimbulkan keluhan, mengganggu aktivitas, bahkan memengaruhi pertumbuhan anak sehingga memerlukan penanganan medis.
Gejala GERD Tidak Selalu Khas
Menurut Eva, muntah dan nyeri perut memang menjadi keluhan yang paling sering dialami anak dengan GERD. Namun, gejalanya tidak selalu khas sehingga kerap terlambat dikenali.
Bahkan, dalam beberapa kasus, anak datang dengan keluhan batuk kronis yang tidak kunjung sembuh.
“Saya pernah mendapat pasien yang dirujuk dari dokter paru karena batuk selama satu tahun tidak sembuh. Setelah diperiksa, ternyata penyebabnya adalah GERD,” ungkapnya.
Selain muntah, beberapa gejala GERD pada anak yang perlu diwaspadai meliputi:
- Sering sendawa
- Nafsu makan menurun
- Nyeri ulu hati atau sakit perut bagian atas
- Rewel saat makan
- Sering muntah
- Cegukan berulang
- Batuk kronis, terutama pada malam hari
- Nyeri dada
- Mengi atau napas berbunyi
- Sinusitis atau infeksi telinga berulang
- Mulut berbau
- Sulit menelan
- Erosi gigi akibat paparan asam lambung
Bisa Menghambat Tumbuh Kembang Anak
GERD yang tidak ditangani dapat menyebabkan anak kehilangan nafsu makan sehingga asupan gizinya tidak terpenuhi.
Akibatnya, berat badan sulit naik, pertumbuhan tinggi badan terhambat, hingga memengaruhi perkembangan kecerdasan anak.
“Kalau anak tidak mau makan karena GERD, berat badan bisa turun atau sulit naik, tinggi badan ikut terganggu, bahkan dapat memengaruhi perkembangan kecerdasan dan meningkatkan risiko stunting,” kata Eva.
Dalam kondisi yang lebih berat, isi lambung juga dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu pneumonia aspirasi. Sementara dalam jangka panjang, GERD berisiko menyebabkan peradangan pada kerongkongan hingga Barrett esofagus, yaitu perubahan jaringan kerongkongan akibat paparan asam lambung secara terus-menerus.
Faktor Risiko GERD pada Anak
Selain kebiasaan langsung tidur setelah makan, sejumlah kondisi dapat meningkatkan risiko GERD, antara lain:
- Obesitas
- Pengosongan lambung yang lambat
- Gangguan saraf atau otot
- Langsung tidur setelah makan
- Menggunakan pakaian yang terlalu ketat
Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?
Orang tua sebaiknya segera memeriksakan anak apabila muncul gejala yang mengarah pada GERD, terutama jika disertai tanda bahaya seperti:
- Muntah berulang
- Muntah darah
- Berat badan sulit naik
- Menolak makan
- Batuk kronis yang tidak membaik
- Anemia tanpa penyebab jelas
- Kesulitan menelan
Gejala tersebut dapat menandakan kondisi sudah cukup berat dan berisiko mengganggu penyerapan nutrisi.
Cara Mengatasi GERD pada Anak
Penanganan GERD pada anak umumnya diawali dengan perubahan pola makan dan gaya hidup. Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua antara lain:
- Memberikan makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering.
- Menghindari makanan berlemak, gorengan, makanan cepat saji, makanan olahan, serta minuman bersoda.
- Tidak membiarkan anak makan sambil berbaring.
- Memberi jeda minimal tiga jam antara waktu makan dan tidur.
- Menggunakan pakaian yang longgar agar tidak menekan perut.
- Membiasakan posisi kepala sedikit lebih tinggi saat tidur.
- Memberikan obat sesuai anjuran dokter bila diperlukan.
