Jakarta, Faktaindonesianews.com – Konon kabarnya, kami ini anak pahlawan bangsa Indonesia. Maka selain gelar dan rupa-rupa tanda jasa, ayah kami pun menerima penghargaan dan pensiun dari negara. Namun kami tidak pernah menuntut hak-hak istimewa: sekolah gratis, tunjangan tambahan, atau perlakuan khusus dari pemerintah. Kami sadar, menjadi anak pahlawan bukan berarti berhak menagih negeri agar tunduk pada darah kami.
Karena itu, ada rasa heran ketika melihat Megawati Soekarnoputri, yang akhir-akhir ini tampak semakin sering melontarkan kritik bernada getir—seolah negeri ini hanya bisa benar bila dipimpin oleh keturunan proklamator. Ia berbicara tentang arah bangsa, ideologi, dan “garis perjuangan Bung Karno” yang menurutnya mulai menyimpang. Namun di balik semangat itu, terselip ironi: mengapa sejarah yang ia bela justru berhenti di masa lalu?
Megawati bukan sosok kecil dalam perjalanan republik. Ia mantan presiden, pemimpin partai besar, dan simbol yang pernah mempersatukan kerinduan rakyat terhadap warisan Sukarnoisme. Tetapi sejarah tidak pernah diam. Ia bergerak, berubah, dan menuntut tafsir baru pada setiap generasi. Apa yang relevan di era revolusi belum tentu tepat di masa demokrasi terbuka, apalagi di tengah derasnya arus digital dan pergeseran nilai global.
Barangkali yang kini kita saksikan bukan sekadar kritik seorang politisi senior, melainkan pergulatan batin seorang tokoh besar menghadapi kenyataan bahwa pengaruhnya kian meredup. Itu hal yang manusiawi. Setiap pemimpin besar pernah berhadapan dengan bayang-bayang kejayaannya sendiri. Namun ketika suara yang seharusnya menuntun berubah menjadi sindiran dan nyinyiran, pesan kebangsaan kehilangan maknanya.
Padahal, bangsa ini tidak pernah kehilangan rasa hormat. Rakyat tetap mengenang Bung Karno dengan penuh kebanggaan. Nama beliau tak pernah pudar, karena yang diwariskan bukan darah, melainkan semangat membangun bangsa dengan pengorbanan tanpa pamrih.
Yang kini dibutuhkan dari Megawati bukan nostalgia masa lalu, melainkan kearifan masa kini—keteladanan untuk berdamai dengan zaman, dan kesediaan memberi ruang bagi generasi baru yang menafsirkan perjuangan dengan cara berbeda.
Sebab sejarah sejatinya bukan tentang siapa orang tuanya, melainkan apa yang kita tanam untuk anak cucu kita.
Pahlawan telah menanam, rakyat telah memanen. Kini tiba waktunya menanam kembali, bukan menagih jasa. /djohar
