Kota Cirebon, Faktaindonesianews.com – Wali Kota Cirebon, Effendi Edo diwakili Sekretaris Daerah, Iing Daiman menghadiri Pembacaan Babad Cirebon yang di selenggarakan di Kesultanan Kanoman Cirebon, Rabu (17/6/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Cirebon tersebut kembali menjadi ruang refleksi bersama untuk mengingat perjalanan panjang berdirinya Kota Cirebon sekaligus memperkuat komitmen menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
Dalam kesempatan itu, Sekda menyampaikan apresiasi kepada Kesultanan Kanoman yang secara konsisten menjaga tradisi pembacaan Babad Cirebon. Menurutnya, tradisi tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar membaca catatan sejarah, melainkan menjadi ikhtiar bersama untuk merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap identitas dan akar peradaban Kota Cirebon.
“Atas nama Pemerintah Kota Cirebon, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kesultanan Kanoman atas konsistensinya menyelenggarakan pembacaan Babad Cirebon. Ini merupakan wujud nyata dalam menjaga memori kolektif masyarakat tentang perjalanan berdirinya Kota Cirebon serta nilai-nilai yang di wariskan oleh para pendahulu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Babad Cirebon bukan hanya menyajikan rangkaian peristiwa masa lalu, tetapi juga memuat nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi lahirnya Kota Cirebon. Dari sejarah tersebut, masyarakat dapat belajar mengenai pentingnya moralitas, kebijaksanaan, semangat gotong royong, serta kepemimpinan yang mengutamakan kemaslahatan bersama.
Menurutnya, para pendiri Cirebon telah memberikan teladan tentang bagaimana membangun masyarakat yang beradab dengan menjadikan kepentingan publik sebagai prioritas. Nilai-nilai tersebut di nilai tetap relevan untuk di jadikan pedoman dalam menghadapi tantangan pembangunan saat ini.
“Babad Cirebon sesungguhnya adalah ruang bagi kita untuk membaca kembali cetak biru lahirnya Kota Cirebon. Sejarah mengajarkan bahwa kota ini dibangun di atas fondasi moral, budi pekerti, serta semangat melayani masyarakat. Nilai-nilai itulah yang harus terus kita hidupkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan,” katanya.
Sekda menegaskan, Pemerintah Kota Cirebon menjadikan nilai-nilai sejarah sebagai landasan etis dalam menjalankan roda pemerintahan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya di ukur dari capaian fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan menjaga karakter, budaya, serta jati diri masyarakat.
“Sebagai penyelenggara pemerintahan, kami di tuntut untuk bekerja tidak hanya berdasarkan aspek administratif dan teknis, tetapi juga berpegang teguh pada etika pengabdian. Pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan penguatan karakter masyarakat dan pelestarian budaya yang menjadi identitas Kota Cirebon,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan zaman membawa tantangan yang semakin kompleks. Arus transformasi sosial yang berlangsung begitu cepat dapat memengaruhi cara pandang dan identitas generasi muda apabila tidak di imbangi dengan pemahaman sejarah serta penguatan nilai budaya.
Karena itu, Sekda menilai pewarisan nilai-nilai yang terkandung dalam Babad Cirebon kepada generasi muda merupakan langkah strategis yang harus terus di lakukan secara berkelanjutan melalui sinergi antara pemerintah, keraton, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen warga.
Menurutnya, tema Hari Jadi Cirebon Tahun 2026, “Manunggal Winangun Caruban”, menjadi pengingat bahwa pembangunan Kota Cirebon hanya dapat terwujud melalui kebersamaan dan kolaborasi semua pihak.
“Tema Manunggal Winangun Caruban mengajarkan bahwa kita harus menyatukan visi dan langkah antara pemerintah, keraton, serta seluruh elemen masyarakat. Dengan semangat kebersamaan itulah kita dapat mengevaluasi berbagai kekurangan di masa lalu, memperkuat potensi yang di miliki, dan bersama-sama membangun masa depan Kota Cirebon yang semakin maju tanpa meninggalkan akar budaya dan sejarahnya,” pungkasnya.
