Bandung, Faktaindonesianews.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus menggenjot upaya menjaga kebersihan kota dan memperkuat sistem pengelolaan sampah melalui berbagai langkah strategis. Pemerintah memadukan penguatan armada pengangkutan, optimalisasi fasilitas pengolahan, peningkatan kinerja insenerator, penyesuaian jam penyapuan, hingga edukasi massal kepada masyarakat. Tak hanya itu, tiga program unggulan—Kang Pisman, Buruan SAE, dan Dapur Dahsyat—diintegrasikan sebagai strategi komprehensif untuk membangun lingkungan yang bersih, menyediakan pangan sehat, dan meningkatkan kualitas kesehatan warga.
1. Pengangkutan Sampah: Hadapi Selisih 554 Ton Per Hari
Kota Bandung menghasilkan 1.492 ton sampah per hari, sementara TPA Sarimukti hanya mampu menampung 938 ton. Artinya, ada 554 ton sampah yang harus dikelola langsung di dalam kota.
Untuk mencegah penumpukan, Pemkot Bandung meningkatkan frekuensi operasi armada, memperbaiki rute pengangkutan, dan memperketat pengawasan TPS. Langkah ini dilakukan agar alur pengangkutan tetap lancar dan tidak menimbulkan masalah kebersihan di permukiman maupun fasilitas publik.
2. Pengolahan Sampah: Fasilitas Pemerintah dan Swasta Berkontribusi 207,58 Ton per Hari
Pemkot Bandung bekerja sama dengan sejumlah pihak swasta dalam pengolahan sampah. Hingga saat ini, total sampah yang berhasil diolah mencapai 207,58 ton per hari. Namun masih tersisa 246,42 ton yang harus dikelola lewat strategi tambahan.
a. Aktivasi Petugas Pemilah dan Pengolah RW
Setiap RW memiliki satu petugas pemilah dengan target 100 kg per hari. Dengan total 1.597 RW, potensi pengolahan sampah mandiri mencapai 159,7 ton per hari.
b. Penguatan Pengolahan Mandiri
Sisa 86,72 ton diharapkan dapat ditangani rumah tangga, restoran, hotel, perkantoran, retail, hingga kawasan permukiman melalui pengolahan independen.
3. Optimalisasi Insenerator Kota
Insenerator kota kini diarahkan untuk memaksimalkan pengolahan sampah residu. Optimalisasi mencakup:
-
peningkatan kapasitas operasi,
-
pengurangan volume sampah secara efisien,
-
pengendalian emisi sesuai standar,
-
serta integrasi sistemik dengan fasilitas pengolahan lainnya.
4. Penyesuaian Jam Penyapuan Jadi Pukul 04.00 WIB
Demi memastikan ruang publik bersih sejak pagi, Pemkot Bandung mengubah jadwal penyapuan menjadi 04.00 WIB. Langkah ini membuat petugas dapat menyelesaikan pekerjaan sebelum aktivitas warga meningkat, sekaligus menciptakan kenyamanan bagi masyarakat yang beraktivitas pagi.
5. Edukasi 3R dan Penerapan Prinsip “Tidak Dipilah, Tidak Diangkut”
Upaya perubahan perilaku masyarakat menjadi fokus utama. Camat, lurah, RW, dan kader lingkungan digerakkan untuk memberikan edukasi 3R secara masif. Pemkot juga menegaskan penerapan prinsip “tidak dipilah, tidak diangkut” bagi rumah tangga yang tidak melakukan pemilahan sampah. Kebijakan ini bersifat edukatif dan bertujuan membangun disiplin kolektif.
6. Integrasi Kang Pisman, Buruan SAE, dan Dapur Dahsyat: Mewujudkan Ekosistem Sirkuler
Pemkot Bandung merancang pendekatan terpadu yang menghubungkan pengelolaan sampah, ketersediaan pangan, dan kesehatan masyarakat melalui program Kang Pisman, Buruan SAE, dan Dapur Dahsyat.
a. Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan)
Program ini menjadi tonggak pengurangan sampah dari sumbernya dengan mendorong:
-
pemisahan sampah organik, anorganik, dan residu,
-
pengurangan sampah rumah tangga,
-
pemanfaatan sampah menjadi kompos, eco-enzyme, dan produk daur ulang.
b. Buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis)
Program urban farming ini menghasilkan manfaat berlapis:
-
mengurangi sampah organik melalui penggunaan kompos,
-
menyediakan pangan sehat,
-
mendukung ekonomi keluarga dan kemandirian pangan.
Hasil pengolahan sampah organik dari Kang Pisman menjadi energi utama untuk produktivitas kebun Buruan SAE.
c. Dapur Dahsyat (Dapur Sehat Atasi Stunting)
Program ini menyasar keluarga rentan melalui:
-
penyediaan makanan bergizi,
-
edukasi kesehatan dan gizi,
-
pemanfaatan hasil Buruan SAE sebagai bahan pangan.
Ketiga program ini melahirkan circular ecosystem:
sampah organik → kompos → pangan sehat → peningkatan gizi masyarakat.
Komitmen Wali Kota Bandung
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa integrasi pengelolaan sampah dan ketahanan pangan menjadi fondasi penting bagi masa depan kota.
“Kita berkomitmen memperkuat pelayanan sekaligus mengajak masyarakat berperan aktif. Dengan gotong royong, insyaallah Bandung akan semakin bersih, sehat, dan berdaya,” ujarnya.
