Site icon Berita Fakta Indonesia

Pendapat Al Kindi Hampir Sama dengan Pandangan Islam

Pendapat Al Kindi Hampir Sama dengan Pandangan Islam

FaktaIndonesiaNews.com – Alam semesta merupakan alam yang mencakup seluruh kehidupan, tata surya, galaksi, dan gugusan bintang. Alam semesta sendiri tercipta ketika terjadi ledakan hebat yang akhirnya membentuk ruang (space). Dari ledakan ini kita kenal sebagai Big Bang atau ledakan hebat. Big Bang terjadi 13.6 miliar tahun yang lalu ketika alam semesta masih sangat kecil dan padat. Hasil ledakan ini kemudian meluas ke alam semesta dan membentuk gugusan bintang dan planet-planet.

Semenjak Penciptaan Alam Semesta

Semenjak penciptaan alam semesta, ruang alam semesta berekspansi atau meluas. Adanya ekspansi ini di buktikan dengan jarak antar gugusan galaksi yang semakin jauh karena cahaya yang di terima oleh bumi terjadi red shift di mana elektron cahaya semakin melemah. Hal ini terjadi karena elektron yang dipancarkan oleh cahaya tidak dapat mempertahankan frekuensinya dengan waktu yang lama.

Al-Ghazȃlȋ, seorang teolog dari kaum Muslim,  berpendapat bahwa alam di ciptakan oleh Allah dari tiada menjadi ada (al-ȋjȃd min al-‘adam). Penciptaan dari ketidakadaann yang memastikan sebuah Pencipta. Yang ada tidak butuh kepada yang mengadakan. Karena itulah semestinya sebuah alam diciptakan dari tiada menjadi ada. Sementara itu, menurut Ibn Rusyd, alam ini qadȋm, dengan arti alam ini di ciptakan dari sesuatu (materi) yang sudah ada.

Menurut Ibn Rusyd, penciptaan dari tiada (al-‘adam) adalah suatu yang mustahil dan tidak mungkin terjadi. Dari tidak ada (nihil yang kosong) tidak bisa terjadi sesuatu. Oleh karena itulah, materi asal alam ini mesti qadȋm.

Ketika membicarakan persoalan penciptaan alam semesta, bahasa yang dipergunakan oleh kedua filsuf tidaklah cukup terang untuk dapat sampai pada suatu keterangan yang meyakinkan. Ada beberapa penafsiran yang menyatakan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta secara bebas, dari tiada sama sekali. Istilah bahasa Arab yang sering dipergunakan untuk penciptaan seperti itu adalah khalaqa yang berarti “menciptakan” atau “mendatangkan sesuatu hal”

Salah satu pemikir Islam yang ikut mengembangakan ide mengenai penciptaan alam semesta adalah Al-Kindi, dilahirkan di Kuffah sekitar tahun 801 M dan Wafat sekitar tahun 873 M. Al-Kindi mempelajari banyak sekali ilmu pengetahuan (Madani, 2015). Dalam gagasannya, Al-Kindi mencoba menyelaraskan antara filsafat dan juga keagamaan. Untuk menyelaraskannya, Al-Kindi menciptakan teori-teori yang berkaitan dengan sains. Mengenai konsep penciptaan alam, Al-Kindi berpendapat bahwa alam tercipta dari suatu ketiadaan lalu diciptakan dalam waktu sehingga kemudian menjadi ada. Munculnya alam semesta pastilah ada yang mendahuluinya dan sebabnya. Paham ini biasa disebut dengan teori “Ex nihilo nihil fit” atau “Createo ex nihilo”. Konsep tersebut dekat dengat teori Plato yang mengatakan bahwa segala sesuatu memiliki ide dan semua ide tersebut bergantung pada ide yang paling tertinggi atau “absolut good”. Ide tertinggi inilah yang disebut Plato sebagai tuhan.

Al-Kindi Juga Berpendapat

Al-Kindi juga berpendapat bahwa segala sesuatu yang di ciptakan merupakan sesuatu yang di dasari oleh tujuan dan bukan sekali-kali tanpa alasan. Bedasarkan apa yang di yakini oleh Al-Kindi, di ketahui bahwa pemikirannya tidak bertentangan dengan ilmu agama. Bahwasannya apa-apa yang di ciptakan oleh Tuhan merupakan sesuatu yang di dasari oleh tujuan dan alasan. Al-Kindi membagi alam menjadi dua bentuk, yaitu alam bawah dan alam atas. Alam atas merupakan alam yang tidak mengalami perubahan bentuk dan keberadaannya tidak terjadi dengan cara penciptaan. Namun keberadaannya ada karena proses emanasi meliputi roh, jiwa, dan akal.

Dalam Al-Quran, di jelaskan bahwa langit dan bumi di ciptakan dalam 6 periode penciptaan. Di jelaskan dalam Al-Quran surat Hud ayat 7 dengan arti “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa”. Pada ayat ini, di jelaskan bahwa alam semesta melalui 6 tahap penciptaan. Pada 6 hari tersebut, tersimpan alasan-alasan yang dapat di teliti.

Alasan mengapa penciptaan 6 hari itu adalah agar langit dan segala isinya tersusun sedemikian rupa. Masa pertama penciptaan ini yakni masa pengembangan alam semesta dan menjadi sempurna. Dalam fase ini, di jelaskan bahwa alam semesta belum layak di huni sehingga masih dalam tahap penyempurnaan. Dalam surat Al-Anbiya ayat 31 juga di jelaskan alasan mengapa di ciptakannya gunung, dengan arti “Kami telah menjadikan bumi guning-gunung yang kokoh agar ia (tidak) guncang bersama mereka”. Alasan di ciptakannya gunung di bumi yaitu agar bumi dapat stabil dan tidak berguncang saat kerak bumi bergerak. Sebelum adanya gunung-gunung, tanah bumi mengalami beberapa fase pergerakan saat fase awal penciptaan alam semesta.

Setelah menafsirkan ayat Al-Quran dan pendapat Al-Kindi, dapat kita lihat bahwa benar bahwasannya apa yang di sampaikan Al-Kindi relevan dengan apa yang di jelaskan pada Al-Quran. Kesesuaian ini di pertegas dengan pendapat Al-Kindi yakni segala sesuatu yang di ciptakan di dasari oleh suatu alasan dan bukan sekali-kali tanpa alasan. Bahwa alam di ciptakan sedemikian rupa dengan alasan yang jelas tujuannya. Apa yang menjadi keyakinan Al-Kindi juga tidak bertentangan dengan agamanya sendiri, yakni Islam. Keyakinannya mengenai munculnya alam semesta pastilah ada yang mendahuluinya dan sebabnya. Sebab Allah menciptakan alam semesta dan gunung sudah jelas sebabnya.

Exit mobile version