BANDUNG, Faktaindonesianews.com – Kalimat ini mungkin terdengar kasar, “Polisi boleh berganti seragam, tapi apakah nuraninya ikut dicuci?” tapi begitulah suara hati rakyat yang terlalu sering kecewa oleh mereka yang seharusnya menegakkan keadilan. Kini, ketika Presiden kembali akan melantik Tim Reformasi Polri, sebagian masyarakat tersenyum getir. Ini bukan kali pertama reformasi dijanjikan, dan sayangnya, terlalu sering berhenti di ruang upacara.
Dulu, ada satu nama yang masih disebut dengan penuh hormat: Hoegeng Imam Santoso. Polisi yang jujur tanpa pamrih, bersih tanpa sandiwara. Di masa ketika kompromi adalah kebiasaan, Hoegeng memilih menjadi pengecualian. Ia menolak suap, menolak fasilitas, bahkan menolak diam saat kebenaran diinjak. Kini, di banyak Polres dan Polresta, tulisan “Teladani Kejujuran Hoegeng” masih tergantung di dinding tapi ironisnya, tinggal jadi slogan.
Reformasi sejati seharusnya dimulai bukan dari struktur, tapi dari jiwa korps. Negara boleh membentuk tim, komisi, atau satgas sebanyak mungkin, tapi bila moralitas aparat tak ikut dibenahi, yang berubah hanya lambang dan jargon. Publik sudah lelah menunggu reformasi yang berhenti di konferensi pers.
Sejak 1998, reformasi kepolisian dijanjikan akan memisahkan Polri dari bayang-bayang militerisme menjadikannya sipil, humanis, dan profesional. Dua dekade kemudian, wajah kekuasaan masih terasa kental di tubuh kepolisian. Kekuasaan yang seharusnya melindungi, justru sering menakuti.
Dalam kaca sejarah, figur seperti Hoegeng bukan sekadar nostalgia; ia pengingat bahwa keteladanan adalah reformasi paling sederhana, tapi paling sulit.
Reformasi Polri tidak boleh berhenti di tataran policy, tapi harus masuk ke ruang pendidikan, rekrutmen, dan karier. Sebab di situlah akar dari integritas itu tumbuh.
SDM Polri harus diseleksi berdasarkan kompetensi dan moral, bukan kedekatan dan titipan. Promosi jabatan harus transparan, bukan berdasar loyalitas buta. Disiplin boleh keras, tapi harus dibarengi dengan keadilan. Karena polisi yang tidak adil di dalam, tak mungkin bisa adil di luar.
Publik menunggu lahirnya polisi yang berwibawa tapi empatik, tegas tapi beradab. Polisi yang tak perlu ditakuti, karena ia sendiri takut melanggar nurani. Sebab rasa takut yang paling mulia bukan kepada atasan, tapi kepada kebenaran yang dikhianati.
Tim Reformasi yang baru dilantik Presiden kini memikul beban besar: mengembalikan kepercayaan rakyat.
Kepercayaan yang hilang bukan karena kesalahan satu-dua oknum, tapi karena pembiaran sistemik yang terlalu lama dibiarkan. Dan itu hanya bisa dipulihkan bila reformasi moral berjalan seiring dengan reformasi kelembagaan.
Hoegeng pernah berpesan, “Jangan takut jujur, meski kau harus sendirian.”
Kini pertanyaannya: adakah polisi hari ini yang masih berani sendirian demi kebenaran itu?
Kalau masih ada, dialah yang pantas disebut penerus reformasi sejati — bukan karena jabatan, tapi karena keberanian menjaga nurani di tengah hiruk-pikuk kekuasaan./*djohar
Catatan Redaktur:
Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap resmi media.
