Faktaindonesianews.com – Selama bulan Ramadhan, banyak orang mengaku menjadi lebih peka terhadap aroma napas, terutama ketika sedang berpuasa. Dalam percakapan sehari-hari, sering muncul istilah populer “bau lambung” yang biasanya digunakan untuk menggambarkan bau tidak sedap dari mulut seseorang yang sedang menahan lapar dan haus. Meski terdengar seperti candaan atau istilah tidak resmi, ternyata kondisi tersebut memiliki penjelasan dalam dunia medis.
Dalam ilmu kesehatan, bau mulut dikenal dengan istilah halitosis. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari masalah kebersihan mulut hingga gangguan pada sistem pencernaan, khususnya lambung. Itulah sebabnya sebagian masyarakat kemudian mengaitkan bau mulut tertentu dengan istilah “bau lambung”.
Praktisi kesehatan pencernaan, Ari Fahrial Syam, menjelaskan bahwa bau mulut memang dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada lambung. Salah satu kondisi yang kerap dikaitkan dengan hal tersebut adalah Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit asam lambung naik.
Menurut Ari, meskipun bukan gejala utama, halitosis dapat muncul pada sebagian penderita GERD. Hal ini terjadi ketika asam lambung atau gas dari lambung naik ke kerongkongan dan kemudian memicu aroma tidak sedap dari mulut.
Secara sederhana, istilah bau lambung merujuk pada bau mulut yang sumbernya berasal dari gangguan pada lambung atau saluran pencernaan bagian atas. Dalam kondisi normal, bau mulut lebih sering disebabkan oleh faktor di rongga mulut, seperti sisa makanan yang tertinggal, plak pada gigi, atau penyakit gusi.
Namun dalam beberapa kasus tertentu, penyebab bau tidak sedap ternyata berasal dari dalam tubuh, khususnya dari organ pencernaan. Jika lambung mengalami iritasi, luka, atau produksi gas yang berlebihan, gas tersebut dapat naik ke kerongkongan dan memicu bau tidak sedap saat seseorang berbicara atau bernapas.
Selain itu, faktor lain yang dapat memicu bau mulut adalah infeksi bakteri di lambung. Salah satu bakteri yang sering dikaitkan dengan masalah ini adalah Helicobacter pylori. Bakteri tersebut dikenal sebagai penyebab utama radang lambung dan tukak lambung, yang juga dapat memicu gangguan pencernaan serta aroma napas yang kurang sedap.
Meski begitu, para ahli kesehatan menegaskan bahwa tidak semua bau mulut berasal dari lambung. Dalam banyak kasus, penyebab paling umum tetap berasal dari masalah kesehatan gigi dan mulut, seperti karies gigi, radang gusi, atau kebersihan mulut yang kurang terjaga. Selain itu, gangguan pada area telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) juga dapat menjadi pemicu bau mulut.
Karena itu, ketika seseorang mengalami bau mulut yang berlangsung lama atau tidak kunjung hilang, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan secara bertahap. Pemeriksaan pertama biasanya difokuskan pada kondisi gigi, mulut, dan area THT. Jika tidak ditemukan penyebab di area tersebut, barulah dokter akan mempertimbangkan kemungkinan adanya gangguan pada lambung.
Dalam beberapa kasus, bau mulut dapat membaik setelah pasien menjalani pengobatan untuk masalah pencernaan. Jika gejala masih berlanjut, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi untuk mengetahui kondisi lambung secara lebih jelas.
