Faktaindonesianews.com, Tasikmalaya – Kota Tasikmalaya dipercaya menjadi tuan rumah Seminar dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) BEM Nusantara Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung di Kampus STIMIK DCI, Jalan Sutisna Senjaya, Kota Tasikmalaya, Sabtu (25/7/2026), menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertukar gagasan sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah.
Rakerda tersebut dihadiri perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Barat, Kepala Kesbangpol Kota Tasikmalaya, serta sejumlah perwakilan organisasi mahasiswa. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra.
Diky Chandra Apresiasi Kota Tasikmalaya Dipilih sebagai Lokasi Rakerda
Dalam sambutannya, Diky Chandra mengapresiasi kepercayaan yang diberikan kepada Kota Tasikmalaya sebagai lokasi penyelenggaraan agenda BEM Nusantara Jawa Barat.
Menurut Diky, forum tersebut memiliki arti penting karena dapat mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah sekaligus membuka ruang dialog mengenai persoalan pembangunan dan masa depan daerah.
“Alhamdulillah, Tasikmalaya dipercaya menjadi salah satu daerah yang mengumpulkan BEM Nusantara Jawa Barat. Setelah ini mereka juga akan melaksanakan rapat kerja di Yogyakarta,” ujar Diky.
Ia menilai keberadaan organisasi mahasiswa dapat menjadi kekuatan strategis dalam mendorong lahirnya gagasan baru. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai kelompok akademik, tetapi juga memiliki kesempatan untuk ikut memberikan kontribusi terhadap pembangunan melalui pemikiran, kritik, dan inovasi.
Diky Bagikan Pengalaman Pendidikan kepada Mahasiswa
Dalam kesempatan tersebut, Diky juga membagikan pengalaman pribadinya kepada para peserta Rakerda. Ia mengaku hanya menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA dan tidak memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Karena itu, Diky mengingatkan para mahasiswa agar tidak menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan pendidikan tinggi. Menurutnya, masa perkuliahan seharusnya dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, membangun jejaring, serta melakukan berbagai kegiatan positif.
“Saya hanya lulusan SMA, tidak kuliah. Karena itu saya berharap teman-teman mahasiswa bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, mengisi waktu dengan hal-hal positif, serta bersyukur bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi dorongan agar mahasiswa tidak hanya mengejar pencapaian akademik, tetapi juga mampu mengembangkan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
BEM Nusantara Diharapkan Melahirkan Gagasan untuk Daerah
Diky berharap Rakerda BEM Nusantara Jawa Barat tidak berhenti sebagai agenda organisasi mahasiswa semata. Ia ingin forum tersebut menghasilkan gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi penting dalam menyampaikan perspektif generasi muda terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Dari forum seperti Rakerda, berbagai ide tersebut dapat dikembangkan menjadi inovasi maupun rekomendasi yang relevan untuk pembangunan.
Diky juga membuka peluang kolaborasi antara organisasi mahasiswa dan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Ia menilai kerja sama tersebut dapat menjadi jembatan agar gagasan mahasiswa tidak hanya berhenti dalam diskusi, tetapi dapat diwujudkan melalui kegiatan yang memberikan manfaat nyata.
“Kami berharap lahir informasi, pemikiran, dan inovasi yang baik dari mahasiswa. Ke depan, semoga dapat terjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk bersama-sama memajukan Kota Tasikmalaya,” pungkasnya.
Mahasiswa dan Pemerintah Perlu Memperkuat Kolaborasi
Penyelenggaraan Rakerda BEM Nusantara Jawa Barat di Kota Tasikmalaya juga menunjukkan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam dinamika pembangunan daerah. Pemerintah daerah membutuhkan masukan dari generasi muda, sementara mahasiswa membutuhkan ruang untuk menyampaikan gagasan dan mengembangkan pengalaman organisasi.
Melalui komunikasi yang terbuka, mahasiswa dapat berperan sebagai mitra kritis pemerintah dengan memberikan masukan berdasarkan perspektif akademik dan kondisi masyarakat. Sebaliknya, pemerintah dapat membuka akses kolaborasi agar berbagai gagasan tersebut memiliki ruang untuk diterapkan.
Dengan demikian, kegiatan organisasi mahasiswa dapat memberikan dampak yang lebih luas, terutama apabila menghasilkan program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
