Faktaindonesianews.com, Garut – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Garut mendadak menjadi sorotan publik. Bukan karena keberhasilannya, melainkan akibat keluhan siswa yang mencium aroma tidak sedap dari nasi yang disajikan. Video protes siswa pun viral di media sosial dan memicu perhatian luas.
Dalam rekaman berdurasi 1 menit 25 detik tersebut, sejumlah siswa sekolah dasar tampak menolak makanan yang mereka terima. Mereka mengeluhkan nasi yang berbau asam dan menyengat, sehingga dianggap tidak layak konsumsi.
“Bau MBG-nya, nasinya bau asem,” ujar siswa dalam video yang beredar.
Terjadi di SDN 3 Bojong Banjarwangi
Setelah ditelusuri, insiden ini terjadi di SDN 3 Bojong. Makanan yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akhirnya tidak dikonsumsi oleh siswa karena dikhawatirkan dapat memicu gangguan kesehatan.
Bahkan, dalam video tersebut terlihat kondisi makanan yang tidak hanya berbau, tetapi juga dikerubuti lalat. Hal ini semakin memperkuat kekhawatiran siswa dan pihak sekolah terkait kualitas menu MBG yang disajikan.
Sekolah Benarkan Kejadian
Kepala Sekolah SDN 3 Bojong, Cucu Hayati, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa kejadian berlangsung pada Senin (6/4/2026), saat dirinya sedang tidak berada di sekolah.
“Saya mendapat informasi dari guru bahwa pada hari itu ada sebagian nasi yang basi,” jelasnya, Rabu (8/4/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak seluruh menu mengalami masalah, melainkan hanya sebagian saja yang terindikasi basi.
Siswa Diminta Tidak Mengonsumsi
Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah langsung mengimbau siswa untuk tidak mengonsumsi makanan tersebut. Keputusan ini diambil demi menghindari risiko keracunan atau gangguan kesehatan lainnya.
“Agar tidak dimakan oleh siswa karena takut terjadi sesuatu yang tidak baik untuk kesehatan,” tambahnya.
Pihak sekolah juga telah menyampaikan keluhan tersebut kepada pihak dapur MBG. Komunikasi pun dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali.
Jadi Evaluasi Program MBG
Kasus ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan program MBG, khususnya terkait pengawasan kualitas makanan sebelum didistribusikan ke sekolah. Kepercayaan masyarakat terhadap program ini sangat bergantung pada konsistensi kualitas dan keamanan pangan yang diberikan kepada siswa.






