Faktaindonesianews.com – Ketika anak mulai merantau untuk kuliah atau bekerja, suasana rumah yang sebelumnya penuh aktivitas perlahan bisa berubah. Tidak ada lagi suara anak dari kamar, obrolan singkat di meja makan, atau kebiasaan bertemu setiap hari.
Orang tua pun harus menyesuaikan diri. Jika sebelumnya bisa mengetahui kondisi anak secara langsung, kini sebagian besar kabar datang melalui pesan singkat, panggilan telepon, atau video call.
Meski begitu, jarak bukan berarti hubungan orang tua dan anak harus ikut menjauh. Justru pada fase ketika anak mulai hidup mandiri, hubungan keluarga dapat berkembang menjadi lebih dewasa. Kuncinya adalah menjaga komunikasi tetap hangat tanpa membuat anak merasa terus diawasi.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mempertahankan kedekatan dengan anak yang sedang merantau.
1. Tidak Perlu Menunggu Percakapan Panjang
Menjaga hubungan dengan anak tidak harus selalu dilakukan melalui video call berjam-jam. Percakapan singkat yang dilakukan secara rutin justru bisa membuat hubungan tetap terasa dekat.
Orang tua dapat mengirim pesan sederhana seperti menanyakan kabar, mengirim foto makanan yang sedang dibuat, membagikan sesuatu yang lucu, atau sekadar mengucapkan selamat pagi.
Komunikasi semacam itu terlihat sederhana, tetapi dapat membuat anak merasa bahwa dirinya tetap menjadi bagian dari kehidupan keluarga meski berada jauh dari rumah.
Yang terpenting bukan durasi percakapan, melainkan konsistensi dalam menjaga komunikasi. Pesan singkat yang tulus terkadang lebih berarti dibandingkan percakapan panjang yang terasa dipaksakan.
2. Jangan Hanya Membahas Kuliah dan Pekerjaan
Pertanyaan seperti “Bagaimana kuliahnya?”, “Sudah selesai kerja?” atau “Tugasnya sudah beres?” memang menunjukkan perhatian. Namun, jika pertanyaan tersebut terus berulang, komunikasi antara orang tua dan anak dapat terasa seperti rutinitas laporan.
Agar percakapan lebih hidup, orang tua bisa mencoba masuk ke sisi kehidupan anak yang lebih personal.
Misalnya, tanyakan siapa teman yang sedang dekat dengannya, kegiatan apa yang akhir-akhir ini membuatnya senang, pengalaman menarik yang dialaminya, atau sesuatu yang sedang membuatnya penasaran.
Pembicaraan mengenai pertemanan, pengalaman sehari-hari, perasaan, dan hal-hal yang disukai anak dapat menciptakan hubungan yang lebih hangat.
Dengan begitu, anak tidak hanya merasa ditanya tentang kewajibannya, tetapi juga merasa bahwa orang tuanya tertarik dengan kehidupannya secara keseluruhan.
3. Jadikan Komunikasi sebagai Percakapan Dua Arah
Saat anak masih tinggal di rumah, orang tua dapat melihat langsung kondisi anak. Misalnya, mengetahui apakah anak sedang lelah, sudah makan, sedang sibuk atau membutuhkan bantuan.
Ketika anak merantau, kemampuan tersebut tentu berkurang. Akibatnya, orang tua mungkin terdorong untuk lebih sering menghubungi dan menanyakan keadaan anak.
Perhatian memang penting. Namun, komunikasi yang sehat tetap membutuhkan ruang bagi anak untuk berbicara dan didengarkan.
Tidak setiap cerita harus langsung mendapat nasihat. Ada kalanya anak hanya ingin menceritakan pengalaman tanpa membutuhkan solusi.
Orang tua bisa mencoba mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan pendapat. Pola seperti ini membantu membangun hubungan yang lebih setara dan membuat anak merasa nyaman untuk terbuka.
Hubungan antara orang tua dan anak yang sudah dewasa pun secara alami dapat berubah. Jika sebelumnya lebih banyak berisi aturan dan arahan, hubungan tersebut perlahan bisa berkembang menjadi diskusi, berbagi pengalaman, dan saling memberikan dukungan.
4. Temukan Pola Komunikasi yang Nyaman
Setiap keluarga memiliki kebiasaan berbeda. Ada orang tua dan anak yang nyaman melakukan panggilan video setiap malam. Ada pula yang lebih cocok bertukar pesan beberapa kali dalam sehari.
Tidak ada aturan bahwa komunikasi harus dilakukan dalam frekuensi tertentu.
Pesan teks memberikan keleluasaan karena bisa dibalas ketika masing-masing memiliki waktu. Sementara itu, panggilan suara atau video dapat dipilih ketika ingin berbicara lebih lama dan melihat ekspresi satu sama lain.
Karena itu, orang tua sebaiknya berdiskusi dengan anak mengenai pola komunikasi yang paling nyaman bagi kedua pihak.
Terlalu sering menghubungi anak tanpa mempertimbangkan kesibukannya justru dapat membuat komunikasi terasa seperti kewajiban. Sebaliknya, pola komunikasi yang disepakati bersama dapat membuat hubungan tetap dekat tanpa menimbulkan tekanan.
5. Berikan Kesempatan Anak Menjalani Kehidupannya
Merantau biasanya menjadi fase penting ketika anak mulai belajar mandiri dan mengambil keputusan sendiri. Ia akan bertemu lingkungan baru, memiliki teman baru, mencoba berbagai pengalaman, bahkan mungkin menghadapi kegagalan yang sebelumnya belum pernah dialami.
Orang tua tentu tetap perlu memberikan perhatian. Namun, perhatian tidak harus diwujudkan dengan terus meminta kabar, menanyakan keberadaan setiap saat, atau ikut menentukan semua keputusan anak.
Anak juga membutuhkan ruang untuk berkembang.






