Alhasil, Bau yang Menguji Kesadaran Kolektif Kita dari Garoga–Huta Godang adalah bau yang memaksa kita berhenti, melihat, dan bertanya:
“Apa yang sebenarnya sudah kita lakukan terhadap hulu kita?”
Bencana ini memperlihatkan hubungan sebab-akibat yang tidak lagi bisa dihindari:
ketika pohon tumbang karena gergaji, maka manusia di hilir tumbang karena arus.
Ketika kayu dipreteli di hulu, maka nyawa dipreteli di hilir.
Dan pada akhirnya, bau bangkai menjadi tanda bahwa ada yang mati, tapi juga ada akal sehat yang seharusnya hidup kembali.
Selama negara hanya menyapu lumpur tanpa membersihkan hulu, tragedi di Garoga–Huta Godang hanya akan menjadi pengulangan dari kitab lama: alam merespons, manusia terperangkap, negara datang terlambat.
Opini ini bukan untuk menyalahkan alam.
Justru untuk mengingatkan: alam tidak pernah berubah arah secara tiba-tiba—kitalah yang mengubah jalannya.
Dan bau itu, betapa pun menyengatnya, sebetulnya adalah suara alam yang berkata pelan namun tegas:
“Aku sudah memperingatkan kalian dari dulu.”/djohar






