Faktaindonesianews.com, Tasikmalaya – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy membantah tudingan yang menyebut proyek rehabilitasi Daerah Irigasi (D.I.) Cikunten II menjadi penyebab utama berkurangnya pasokan air bagi lahan pertanian masyarakat. BBWS menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak menggambarkan kondisi sebenarnya dan mengabaikan berbagai faktor yang memengaruhi debit air di wilayah tersebut.
Menurut BBWS Citanduy, proyek rehabilitasi merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas jaringan irigasi sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan air bagi sektor pertanian di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.
Musim Kemarau dan Pengeringan Teknis Jadi Penyebab Penurunan Debit Air
Kepala BBWS Citanduy menjelaskan, penurunan debit air yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni musim kemarau yang menyebabkan berkurangnya curah hujan serta kebutuhan teknis berupa pengeringan saluran secara berkala selama proses pembangunan berlangsung.
Langkah tersebut dilakukan agar pekerjaan pengecoran dan rekonstruksi dinding saluran irigasi dapat berjalan optimal sehingga menghasilkan konstruksi yang lebih kuat dan tahan lama.
“Penurunan debit air saat ini merupakan dampak musim kemarau serta kebutuhan teknis pengeringan berkala untuk mempercepat rekonstruksi beton dinding saluran,” jelas pihak BBWS Citanduy.
BBWS Pastikan Tidak Ada Penutupan Aliran Air Secara Permanen
BBWS Citanduy menegaskan bahwa proyek rehabilitasi tidak pernah menghentikan distribusi air secara permanen kepada petani.
Sebaliknya, distribusi dilakukan melalui sistem pola giliran atau rotasi air yang telah disepakati bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), tokoh masyarakat, dan berbagai pihak terkait.
Melalui mekanisme tersebut, aliran air tetap diberikan secara bergantian kepada wilayah hilir, sementara kontraktor memperoleh waktu untuk menyelesaikan pekerjaan konstruksi pada bagian saluran tertentu.
Debit Sungai Menurun Akibat Faktor Alam
Selain proses rehabilitasi, BBWS juga mengungkapkan bahwa kondisi hidrologi menunjukkan debit Sungai Ciwulan dan Sungai Cimerah memang mengalami penurunan akibat minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir.
Karena itu, pihaknya menilai tidak tepat apabila seluruh penurunan pasokan air dikaitkan dengan proyek rehabilitasi irigasi.
BBWS menilai kondisi tersebut merupakan fenomena alam yang memang terjadi setiap musim kemarau.
Pengambilan Air Ilegal Ikut Memengaruhi Distribusi
Faktor lain yang turut memengaruhi distribusi air ialah masih ditemukannya praktik pengambilan air secara ilegal atau oncoran di sepanjang jaringan irigasi.
Menurut BBWS Citanduy, kondisi tersebut membuat distribusi air menuju wilayah hilir menjadi tidak optimal.
Melalui proyek rehabilitasi, sistem distribusi akan ditata ulang agar pembagian air menjadi lebih merata, adil, dan efisien bagi seluruh petani.
Proyek Ditargetkan Tingkatkan Efisiensi Irigasi
Rehabilitasi D.I. Cikunten II mencakup pengerukan sedimen serta pembangunan dinding beton baru pada saluran irigasi.
Perbaikan tersebut diharapkan mampu mengurangi kehilangan air akibat rembesan tanah yang selama ini menjadi salah satu persoalan utama jaringan irigasi.
Dengan kondisi saluran yang lebih baik, aliran air dari hulu menuju lahan pertanian diproyeksikan menjadi lebih cepat dan stabil setelah proyek selesai.
BBWS Ajak Masyarakat Tidak Mudah Terprovokasi
BBWS Citanduy juga menyayangkan munculnya berbagai informasi yang dinilai tidak utuh dan berpotensi memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Pihaknya mengajak seluruh elemen masyarakat melihat proyek rehabilitasi sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sektor pertanian di Tasikmalaya.
“Kami mengetuk hati seluruh elemen masyarakat untuk melihat proyek ini dengan kacamata masa depan. Ini adalah perjuangan jangka pendek demi kenyamanan air jangka panjang. Jika saluran ini tidak diperbaiki sekarang, risiko minimnya air untuk pertanian di masa depan justru akan jauh lebih mengerikan,” tegas BBWS Citanduy.
Selain itu, BBWS memastikan posko pengaduan dan saluran komunikasi resmi tetap dibuka untuk menerima masukan maupun permohonan penyesuaian jadwal distribusi air selama pekerjaan rehabilitasi berlangsung.






