BRImo Makin Ngebut, Pengguna Tembus 22,4 Juta dan Transaksi Capai Rp4.166 Triliun

Jakarta, Faktaindonesianews.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terus memperluas ekosistem digitalnya untuk meningkatkan aktivitas transaksi nasabah sekaligus memperkuat sumber pendanaan berbiaya rendah. Hingga semester I 2026, strategi tersebut mulai terlihat dari pertumbuhan penggunaan aplikasi BRImo serta peningkatan transaksi digital di jaringan BRI.

Aplikasi mobile banking BRI itu telah digunakan secara aktif oleh 22,4 juta pengguna hingga akhir Juni 2026. Dalam periode yang sama, jumlah transaksi finansial melalui BRImo mencapai 3,3 miliar transaksi dengan nilai transaksi mencapai Rp4.166 triliun.

Bacaan Lainnya

Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin tingginya aktivitas nasabah dalam ekosistem digital perseroan.

“BRImo terus menunjukkan pertumbuhan. Hingga semester I, active users mencapai 22,4 juta dan 3,3 miliar transaksi finansial dengan value Rp4.166 triliun,” ujar Aquarius dalam paparan kinerja BRI semester I 2026, Senin (31/8/2026).

BRImo Tak Sekadar Mengejar Jumlah Pengguna

Pertumbuhan BRImo tidak hanya diarahkan untuk memperbesar basis pengguna. BRI juga mendorong agar nasabah semakin sering melakukan berbagai aktivitas keuangan melalui ekosistem digital perseroan.

Strategi ini penting karena semakin tinggi frekuensi transaksi di dalam ekosistem, semakin besar pula peluang BRI untuk memperoleh dana murah. Digitalisasi sekaligus memungkinkan bank memahami pola transaksi nasabah dan memperluas penggunaan berbagai layanan perbankan.

Pendekatan serupa diterapkan BRI pada segmen merchant. Perseroan berupaya menyederhanakan proses onboarding merchant agar lebih banyak pelaku usaha dapat masuk ke dalam ekosistem pembayaran digital.

Transaksi QRIS Melonjak 86 Persen

Penguatan ekosistem merchant tersebut tercermin dari perkembangan transaksi QRIS. BRI mencatat sales volume atau nilai penjualan rata-rata per merchant/store meningkat 53,8 persen menjadi Rp13,4 juta per bulan.

Sementara itu, nilai transaksi QRIS tumbuh jauh lebih tinggi, yakni 86 persen secara tahunan menjadi Rp583,4 miliar.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa kanal pembayaran digital semakin berperan dalam aktivitas transaksi masyarakat dan pelaku usaha. Bagi BRI, perkembangan ini sekaligus membuka ruang untuk memperluas keterhubungan dengan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Pertumbuhan ini menunjukkan semakin kuat BRI mengelola transaksi harian masyarakat dan pelaku usaha, termasuk UMKM,” katanya.

Dengan semakin luasnya penggunaan QRIS, aktivitas transaksi tidak hanya terjadi melalui kanal perbankan konvensional, tetapi juga melalui ekosistem pembayaran digital yang terhubung dengan merchant.

AgenBRILink Catat Transaksi Rp841 Triliun

Transformasi transaksi BRI tidak hanya mengandalkan aplikasi digital. Perseroan juga mempertahankan jaringan fisik melalui AgenBRILink.

Hingga semester I 2026, volume transaksi melalui AgenBRILink mencapai Rp841 triliun. Besarnya aktivitas tersebut turut memberikan kontribusi terhadap pendapatan berbasis komisi atau fee income.

BRI mencatat fee income dari AgenBRILink tumbuh 16,3 persen yoy menjadi Rp915,7 miliar.

Aquarius menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kanal digital dan jaringan fisik BRI dapat berjalan beriringan dalam melayani kebutuhan transaksi masyarakat.

“Ini menunjukkan jaringan fisik dan digital BRI saling melengkapi,” ujar Aquarius.

Kombinasi antara BRImo, QRIS, dan AgenBRILink membuat BRI memiliki jaringan transaksi yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk nasabah yang aktif secara digital maupun masyarakat yang masih mengandalkan layanan berbasis agen.

CASA BRI Tumbuh Lebih Cepat dari DPK

Penguatan ekosistem transaksi tersebut berkaitan erat dengan strategi BRI meningkatkan kualitas pendanaan. Hingga semester I 2026, dana pihak ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Yang menarik, pertumbuhan CASA atau dana murah tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total DPK. CASA BRI meningkat sekitar 10,1 persen yoy, sehingga CASA ratio perseroan mencapai 67,6 persen.

Pertumbuhan dana murah yang lebih cepat menjadi keuntungan bagi bank karena dapat membantu menekan biaya penghimpunan dana.

Hal tersebut tercermin dari cost of fund (CoF) BRI yang turun cukup signifikan. Pada semester I 2026, CoF berada di sekitar 2,4 persen, dibandingkan sekitar 3,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

CASA Jadi Penopang di Tengah Tekanan Margin

Penguatan CASA menjadi semakin strategis karena BRI menghadapi tekanan pada margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM).

Pada semester I 2026, NIM BRI berada di level 6,4 persen, turun dari 6,58 persen pada semester I 2025.

Meski demikian, penurunan biaya dana memberikan ruang bagi perseroan untuk menjaga profitabilitas. Dengan CASA yang tumbuh lebih cepat dan CoF yang turun, BRI memiliki bantalan untuk menghadapi tekanan terhadap margin bunga.

Kinerja tersebut pada akhirnya ikut mendukung pencapaian laba perseroan.

Sepanjang semester I 2026, BRI membukukan laba bersih sebesar Rp31,2 triliun, meningkat 17,5 persen secara tahunan.

Pos terkait