Jakarta, Faktaindonesianews.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menunjukkan performa kuat sepanjang semester I 2026. Sejumlah indikator utama perseroan, mulai dari laba bersih, pendapatan bunga bersih, total aset hingga profitabilitas, tercatat berada di atas rata-rata kelompok bank KBMI IV dalam perbandingan empat bank.
Tidak hanya mencatat skala laba yang besar, BRI juga memperlihatkan perbaikan dari sisi efisiensi dan kualitas aset. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang kinerja perseroan hingga akhir Juni 2026.
Laba BRI Tembus Rp30,87 Triliun
Sepanjang enam bulan pertama 2026, BRI membukukan laba bersih konsolidasi Rp31,18 triliun. Sementara itu, laba yang menjadi hak pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp30,87 triliun.
Angka laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tersebut menjadi basis perbandingan dengan bank lain agar indikator yang digunakan memiliki dasar pengukuran yang sama.
Dalam perbandingan empat bank KBMI IV, laba BRI menjadi yang tertinggi. Capaian Rp30,87 triliun tersebut lebih besar Rp5,47 triliun dibandingkan rata-rata kelompok yang berada di level Rp25,39 triliun.
Jika dihitung secara persentase, laba BRI berada sekitar 21,56 persen di atas rata-rata KBMI IV.
Dari sisi pertumbuhan, laba BRI juga meningkat 17,46 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan laba empat bank yang berada di angka 12,54 persen.
NII BRI Capai Rp80,53 Triliun
Kekuatan kinerja BRI juga terlihat dari pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII).
Pada semester I 2026, NII BRI mencapai Rp80,53 triliun, tumbuh 9,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai tersebut bahkan mencapai sekitar 1,67 kali rata-rata NII KBMI IV, yang tercatat Rp48,29 triliun. Dengan selisih sekitar Rp32,24 triliun, BRI menjadi bank dengan NII terbesar dalam kelompok pembanding.
Besarnya NII menunjukkan kemampuan perseroan menghasilkan pendapatan dari aktivitas intermediasi sekaligus menjaga sumber pendapatan utama di tengah dinamika sektor perbankan.
Efisiensi Operasional BRI Semakin Baik
Selain pertumbuhan laba dan pendapatan bunga, BRI mencatat perkembangan positif dalam hal efisiensi operasional.
Cost to Income Ratio (CIR) bank saja BRI berada di level 35,49 persen. Rasio tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata KBMI IV yang mencapai 36,24 persen, atau memiliki perbedaan sekitar 75 basis poin.
Semakin rendah CIR, semakin kecil porsi pendapatan operasional yang digunakan untuk membiayai kegiatan operasional. Dengan demikian, indikator tersebut menunjukkan BRI memiliki tingkat efisiensi yang lebih baik dibandingkan rata-rata kelompok dalam perbandingan ini.
Namun, BRI bukan bank dengan CIR paling rendah dalam kelompok tersebut.
Sementara secara konsolidasi, efisiensi BRI menunjukkan perbaikan yang lebih besar. CIR konsolidasi turun dari 41,9 persen pada semester I 2025 menjadi 39,2 persen pada semester I 2026.
Artinya, terjadi perbaikan sekitar 270 basis poin dalam satu tahun. Angka konsolidasi tersebut mencakup kinerja entitas anak sehingga menggambarkan perkembangan efisiensi pada tingkat grup.
Risiko Kredit BRI Mulai Menurun
Pertumbuhan bisnis BRI juga berjalan bersamaan dengan perbaikan kualitas kredit. Salah satu indikatornya terlihat dari penurunan non-performing loan (NPL).
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan NPL perseroan pada semester I 2026 turun menjadi 2,9 persen, dibandingkan 3,0 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Dari sisi NPL membaik 3% jadi 2,9%, tercermin CoC menurun cukup signifikan, 3,4% jadi 3,1%,” ujar Hery dalam konferensi pers paparan kinerja BRI semester I 2026, Senin (31/8/2026).
Penurunan NPL tersebut turut diikuti dengan membaiknya Cost of Credit (CoC). BRI mencatat CoC turun dari 3,4 persen pada semester I 2025 menjadi 3,1 persen pada semester I 2026.
Penurunan biaya kredit menunjukkan beban yang harus disiapkan perseroan untuk mengantisipasi risiko kredit semakin terkendali. Perbaikan ini menjadi semakin penting karena BRI tetap menjalankan ekspansi penyaluran kredit.
Aset BRI Capai Rp2.352 Triliun
Dari sisi aset, BRI juga berada di atas rata-rata kelompok bank KBMI IV. Total aset konsolidasi BRI mencapai Rp2.352,38 triliun per akhir Juni 2026.
Angka tersebut lebih tinggi sekitar Rp352 triliun dibandingkan rata-rata KBMI IV sebesar Rp2.000,38 triliun. Secara persentase, aset BRI berada sekitar 17,60 persen di atas rata-rata kelompok.
Dalam kelompok pembanding, BRI menempati posisi kedua berdasarkan total aset.
Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2025, aset BRI bertambah sekitar Rp217,01 triliun. Pertumbuhan sejak awal tahun tersebut mencapai 10,16 persen.
Perhitungan tersebut menggunakan posisi aset pada Desember 2025 sebagai titik pembanding sehingga berbeda dengan pertumbuhan secara tahunan atau year-on-year.
ROA BRI Melebihi Rata-Rata KBMI IV
Kinerja BRI juga tercermin dalam indikator profitabilitas. Return on Asset (ROA) sebelum pajak perseroan tercatat sebesar 3,30 persen pada semester I 2026.
Rasio tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata KBMI IV yang berada di level 3,24 persen.
Jika dibandingkan semester I 2025, ROA BRI juga mengalami peningkatan meskipun tipis. Tahun lalu, ROA berada di level 3,29 persen sehingga terjadi kenaikan sekitar 1 basis poin.
Capaian tersebut melengkapi pertumbuhan laba dan NII yang telah dicatat BRI sepanjang paruh pertama tahun ini.






