Banjar, Faktaindonesianews.com – Pemerintah Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, menghadirkan inovasi pengelolaan sampah berbasis energi terbarukan. Melalui teknologi pirolisis, sampah plastik berhasil diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Program ini dikembangkan bersama seorang inovator desa sekaligus akademisi, Aino Sukirno, yang membimbing proses pengolahan limbah hingga menjadi energi alternatif. Fasilitas pengolahan tersebut berlokasi di Dusun Kalapasabrang, RT 02 RW 08, Desa Kujangsari.
Aino menjelaskan bahwa inovasi ini muncul sebagai jawaban atas persoalan sampah plastik yang sulit ditangani. Sampah plastik jenis low value, yang biasanya tidak bernilai dan tidak masuk ke TPS, kini bisa diubah menjadi produk bermanfaat. Upaya ini juga sejalan dengan dukungan regulasi melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan.
“Mesin pengolahan sampah plastik low value menjadi BBM ini adalah jawaban empiris atas persoalan sampah,” ujar Aino, Rabu (3/12/2025).
Proses pengolahannya dimulai dari pengumpulan sampah melalui Bank Sampah yang tersebar di lingkungan desa. Sampah yang terkumpul lalu dipilah, dicacah, kemudian dimasukkan ke mesin pirolisis untuk dipanaskan hingga menghasilkan cairan BBM. Waktu pemrosesan berkisar antara 3–4 jam, dan bisa lebih cepat menjadi sekitar 1,5 jam tergantung kualitas plastik. Mesin ini mampu mengolah 60 kilogram sampah plastik dalam satu kali produksi.
“Plastik dipanaskan dengan mesin pirolisis, dibantu mesin induksi, dan hasil akhirnya berupa bio solar atau crud oil,” jelasnya.
1 Kg Sampah Jadi 1 Liter BBM
Aino memaparkan bahwa dari 1 kilogram sampah plastik, dapat dihasilkan sekitar 1 liter BBM. Produk akhirnya dapat berupa solar atau pertalite, tergantung suhu pemrosesan. Suhu 200–300 derajat celsius menghasilkan solar, sedangkan suhu 300–350 derajat celsius menghasilkan pertalite.
Kualitas BBM yang dihasilkan sangat ditentukan oleh jenis plastik serta kebersihan bahan mentahnya. Dari berbagai uji coba, BBM hasil pirolisis ini bahkan sudah digunakan untuk menyalakan mesin pencacah plastik.
Sementara itu, Kepala Desa Kujangsari, Ahmad Mujahid, menyatakan bahwa pemerintah desa mendukung penuh inovasi tersebut dengan membentuk Bank Sampah di setiap lingkungan. Setiap dua minggu sekali, masing-masing Bank Sampah dapat mengumpulkan 50–100 kilogram plastik untuk diolah menjadi bahan bakar.
“Dengan adanya mesin pirolisis, ke depan kami tidak akan lagi kebingungan menangani persoalan sampah plastik di lingkungan,” ujarnya.






