Iman, Waktu, dan Luka yang Tak Pernah Sembuh

Iman, Waktu, dan Luka yang Tak Pernah Sembuh

Bandung, Faktaindonesianews.com Di negeri ini, waktu seakan berputar di tempat yang sama. Orang berganti, kursi bergeser, tapi cerita tetap — tentang keadilan yang tertinggal di halaman sejarah. Kita berjalan, tapi tak benar-benar bergerak. Kita bicara tentang kemajuan, tapi langkah kita masih terikat oleh kebiasaan menutup mata terhadap luka yang tak pernah sembuh.

Luka itu bukan lagi darah yang menetes, melainkan ingatan yang tak mau hilang.
Ia hadir di setiap berita korupsi, di setiap ketidakadilan yang kita biarkan, di setiap doa yang terpaksa kita bisikkan dengan getir: “Kapan negeri ini benar-benar pulih?”

Bacaan Lainnya

Dulu, iman menjadi pelita.
Ia bukan sekadar ritual, melainkan kekuatan untuk berdiri tegak meski dunia tak berpihak.
Tapi kini, iman sering dijadikan jubah untuk menutupi dosa-dosa publik.
Kita mendengar nama Tuhan disebut di podium, tapi lupa bahwa nama itu seharusnya hidup di perilaku, bukan di spanduk.

Waktu berjalan, tapi hati kita beku.
Kita sibuk menghitung pembangunan, tapi jarang menghitung kehilangan nurani.
Kita bangga pada gedung yang tinggi, tapi menutup mata pada jurang yang makin dalam antara yang punya dan yang kehilangan segalanya.

Lalu, di mana luka itu berdiam?
Mungkin di wajah petani yang tanahnya tergadai, di mata buruh yang kehilangan harapan, di suara anak muda yang tak didengar karena suaranya terlalu jujur.
Mereka semua menyimpan iman yang nyaris padam — bukan karena tak percaya Tuhan, tapi karena mereka mulai ragu pada manusia.

Namun, seperti musim yang selalu berganti, selalu ada secercah keyakinan: bahwa luka hanya akan benar-benar sembuh jika kita mau menatapnya, bukan menutupinya.
Bahwa iman sejati bukan soal hafalan ayat, tapi keberanian untuk menegakkan kebenaran di tengah kebisuan.
Dan waktu, sekeras apa pun ia memutar nasib, akan berpihak pada mereka yang tak menyerah menjaga cahaya kecil itu — cahaya yang disebut kejujuran.

Sebab selama masih ada satu hati yang berdoa jujur, selama masih ada satu tangan yang bekerja tanpa pamrih, maka negeri ini belum sepenuhnya kehilangan harapan.
Luka boleh lama, tapi tidak selamanya.
Yang abadi hanyalah usaha untuk tetap percaya — bahwa iman, waktu, dan luka, semuanya adalah guru yang mengajari kita untuk menjadi manusia.

Selama iman masih berdenyut di dada manusia yang jujur, waktu tak akan berkuasa penuh atas luka./djohar

Pos terkait