Bandung, FaktaindonesiaNews.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menggelar High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Pendopo Kota Bandung pada Kamis (6/3/2025). Pertemuan ini bertujuan untuk mengevaluasi perkembangan inflasi dan kondisi makroekonomi menjelang Ramadan dan Idulfitri 1446 H.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti kondisi perekonomian Kota Bandung. Serta langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas harga bahan pokok.
Pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung
Sepanjang tahun 2024, ekonomi Kota Bandung tumbuh sebesar 4,99 persen, mengalami sedikit perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,07 persen. Farhan menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Bandung masih stabil di angka 5 persen. Meskipun sebelum pandemi pernah menyentuh 7 persen pada 2019.
Tiga sektor utama yang menjadi penopang ekonomi Bandung meliputi perdagangan (26,32 persen), industri pengolahan (18,29 persen), serta informasi dan komunikasi (14,09 persen).
“Kami akan melakukan analisis mendalam untuk mengetahui bagaimana Kota Bandung dapat berkontribusi dalam target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2025-2029,” ujar Farhan.
Lebih lanjut, ia menekankan perlunya langkah konkret agar laju ekonomi Kota Bandung dapat meningkat.
“Apakah cukup jika pertumbuhan ekonomi hanya di 5 persen atau kita bisa mendorongnya hingga 6 persen? Kita harus mencari strategi yang tepat agar tidak tertinggal,” tambahnya.
Inflasi dan Tren Harga Jelang Ramadan
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Kota Bandung pada Februari 2024 mengalami deflasi sebesar -0,50 persen (YoY), -0,73 persen (MtM), dan -1,61 persen (YtD). Namun, menjelang Ramadan, mulai terlihat adanya tren kenaikan harga bahan pokok.
“Inflasi yang terlalu rendah juga berisiko, karena jika masyarakat tiba-tiba meningkatkan belanja, harga bisa melonjak drastis. Konsumsi adalah motor utama perekonomian, tanpa konsumsi, ekonomi kota tidak akan tumbuh,” jelas Farhan.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Bandung akan melakukan pemantauan langsung di empat pasar utama pada Minggu pagi saat sahur guna melihat kondisi harga bahan pokok.
“Kami ingin mengetahui bagaimana dampak kebijakan pemerintah pusat terhadap harga pangan, serta apakah langkah efisiensi yang dilakukan sudah cukup efektif,” tambahnya.
Dampak Cuaca Ekstrem dan Upaya Pengendalian Harga
Selain faktor ekonomi, Farhan juga menyoroti cuaca ekstrem yang terjadi sejak akhir Februari. Banjir yang melanda beberapa wilayah produksi pangan nasional dikhawatirkan akan mengganggu pasokan bahan pangan.
“Stabilitas harga harus dijaga, karena jika tidak, masyarakat akan semakin terbebani dengan kenaikan harga bahan pokok,” ujarnya.
Sebagai salah satu solusi, Pemkot Bandung mengoptimalkan program Buruan Sae untuk mendorong masyarakat menanam sendiri bahan pangan seperti cabai dan bawang.
“PKK, DKPP, dan kewilayahan harus lebih fokus pada komoditas ini agar dapat mengurangi kekhawatiran harga di masyarakat,” imbuhnya.
Selain itu, pemerintah terus berkoordinasi dengan sektor swasta guna memastikan produksi dan distribusi berjalan lancar dan efisien.
“Sinergi antar-stakeholder harus diperkuat, baik lintas sektor maupun lintas wilayah. Harapannya, masyarakat dapat berbelanja secara bijak tanpa terpengaruh isu kelangkaan bahan pokok,” ungkapnya.
Ketergantungan Kota Bandung pada Pasokan Luar Daerah
Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Bandung, Tubagus Agus Mulyadi, menambahkan bahwa 94,01 persen kebutuhan pangan Kota Bandung masih dipasok dari luar daerah. Hal ini membuat Bandung sangat rentan terhadap fluktuasi harga akibat gangguan pasokan.
“Dari hasil pemantauan harga akhir Februari, beberapa komoditas pangan sudah menunjukkan kenaikan. Inflasi bulanan Kota Bandung tercatat 0,73 persen, yang harus diantisipasi mengingat konsumsi masyarakat meningkat selama Ramadan dan Idulfitri,” katanya.
Pemkot Bandung terus berupaya menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi dengan berbagai langkah strategis. Pemantauan harga, optimalisasi program Buruan Sae, serta sinergi lintas sektor menjadi fokus utama agar masyarakat tidak terdampak lonjakan harga menjelang Ramadan dan Idulfitri. Dengan kebijakan yang tepat, diharapkan perekonomian Kota Bandung dapat tumbuh lebih kuat dan stabil dalam beberapa tahun ke depan.






