Pemkot Bandung Targetkan Pengolahan 200 Ton Sampah Organik per Hari, Kompos Pit Disiapkan di Setiap RW

Faktaindonesianews.com, Bandung – Pemerintah Kota Bandung terus memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA). Salah satu langkah yang menjadi prioritas adalah meningkatkan pengolahan sampah organik langsung di lingkungan masyarakat melalui program Gaslah dan pembangunan fasilitas kompos pit di tingkat rukun warga (RW).

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan pengendalian sampah dari hulu menjadi kunci untuk menekan jumlah sampah yang harus diangkut ke TPA. Karena itu, penanganan sampah perlu dimulai dari tingkat kewilayahan dengan melibatkan masyarakat secara aktif.

Bacaan Lainnya

“Untuk isu sampah memang tugas kami sekarang 100 persen di hulu. Kenapa? Karena untuk bisa mengurangi tekanan ke TPA, maka hulunya juga mesti dikontrol,” ujar Farhan, Kamis, 15 Oktober 2026.

Menurut Farhan, pengolahan sampah sejak dari sumbernya dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus mendorong masyarakat membiasakan diri memilah sampah sesuai jenisnya.

Kapasitas Gaslah Ditingkatkan hingga 200 Ton per Hari

Salah satu program yang terus diperkuat Pemkot Bandung adalah Gaslah, yang berperan dalam pengelolaan sampah sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan dan pengolahan sampah.

Saat ini, kapasitas pengolahan sampah organik melalui program tersebut baru mencapai sekitar 70 ton per hari. Pemkot Bandung menargetkan kapasitas itu meningkat hingga mampu menangani sekitar 200 ton sampah organik setiap hari.

Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan dapat memperluas penanganan sampah organik di lingkungan permukiman. Dengan demikian, sampah yang berpotensi diolah menjadi kompos tidak seluruhnya harus masuk ke sistem pengangkutan menuju TPA.

Selain memperkuat peran petugas, Pemkot Bandung juga ingin meningkatkan partisipasi warga melalui edukasi dan pembiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga.

Libatkan Mahasiswa KKN dalam Pengelolaan Sampah

Untuk mendukung target tersebut, Pemkot Bandung membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi. Mahasiswa didorong terlibat melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), khususnya dalam membantu pemilahan dan pengolahan sampah di tingkat kewilayahan.

Farhan menyampaikan, uji coba pelibatan mahasiswa dalam program pengelolaan sampah telah dilakukan di Kecamatan Arcamanik. Hasil uji coba tersebut dinilai sangat baik sehingga pemerintah berencana menerapkannya di sejumlah wilayah lain.

“Percobaan di Arcamanik berhasil dengan sangat baik, maka kita akan replikasi di beberapa tempat lain,” katanya.

Pelibatan mahasiswa diharapkan memperkuat edukasi kepada masyarakat sekaligus membantu mendorong perubahan perilaku dalam mengelola sampah. Kolaborasi ini juga menjadi salah satu cara untuk memperluas jangkauan program tanpa hanya bergantung pada petugas di lapangan.

Setiap RW Direncanakan Memiliki Tiga Kompos Pit

Selain program Gaslah dan pelibatan mahasiswa, Pemkot Bandung merencanakan pembangunan kompos pit di setiap RW. Fasilitas ini dirancang sebagai tempat pengolahan sampah organik berukuran sekitar 1 x 1 meter dengan kedalaman kurang lebih 2 meter.

Setiap RW direncanakan memiliki tiga kompos pit. Dengan jumlah RW di Kota Bandung yang mencapai sekitar 1.600, pemerintah memproyeksikan pembangunan fasilitas tersebut mencapai sekitar 4.800 titik.

Kompos pit nantinya digunakan untuk menampung sampah organik yang telah dipilah dari sumbernya. Sampah tersebut dapat ditangani di lingkungan sekitar sehingga tidak seluruhnya perlu diangkut menuju TPA.

Farhan mengatakan, pembangunan fasilitas pengolahan di tingkat RW menjadi bagian dari upaya mengurangi volume sampah organik yang masuk ke tempat pemrosesan akhir.

“Tujuannya ke sana. Insyaallah target kita bisa mengurangi sampai 20 persen sampah organik yang dibawa ke TPA,” tutur Farhan.

Target Tangani 120 hingga 150 Ton Sampah Organik di Tingkat RW

Farhan menjelaskan, timbulan sampah Kota Bandung saat ini mencapai sekitar 1.600 ton per hari, dengan sebagian di antaranya berupa sampah organik.

Melalui penguatan pengelolaan berbasis masyarakat, Pemkot Bandung menargetkan sekitar 120 hingga 150 ton sampah organik per hari dapat diselesaikan di tingkat RW. Sementara itu, sampah yang belum tertangani di lingkungan akan mendapatkan penanganan lebih lanjut sesuai sistem pengelolaan yang tersedia.

Target tersebut diharapkan membantu menekan beban pengangkutan sampah menuju TPA. Namun, pencapaiannya membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, petugas pengelola sampah, perguruan tinggi hingga masyarakat.

Kebiasaan memilah sampah dari rumah menjadi salah satu langkah penting agar fasilitas pengolahan di tingkat RW dapat berfungsi sesuai tujuan.

Pos terkait