Simposium Bandung City Networking 2025: Saat Kota-Kota Asia-Afrika Satukan Langkah Hadapi Krisis Global

Simposium Bandung City Networking 2025: Saat Kota-Kota Asia-Afrika Satukan Langkah Hadapi Krisis Global

BANDUNG, Faktaindonesianews.com – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan secara resmi membuka Simposium Bandung City Networking yang menjadi bagian dari rangkaian acara Asia Africa City Network (AACN). Acara yang digelar di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menghadirkan delegasi dari berbagai kota di Asia dan Afrika, Senin (19/5/2025).

Farhan menyebut forum ini sebagai langkah konkret untuk memperkuat kolaborasi antar kota, terutama dalam menghadapi tantangan global dan membangun kota yang inklusif, tangguh, dan berdaya saing.

Bacaan Lainnya

“Kita hadir di sini bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi untuk membangun ekosistem kota yang ramah bagi warganya, tangguh menghadapi perubahan, dan mampu bersaing di kancah internasional,” ujarnya penuh semangat.

Tiga Fokus Strategis: Branding, Networking, dan Resilience

Simposium ini dirancang sebagai wadah pertukaran ide dan praktik terbaik, dengan fokus pada tiga tema utama: city branding, city networking, dan city resilience.

Menurut Farhan, city branding kini bukan sekadar alat promosi, tapi merupakan cerminan dari nilai dan identitas kota.

“Kita ingin kota-kota dalam jaringan Asia-Afrika saling belajar dan mendukung, baik dalam promosi budaya hingga menghadapi tantangan iklim,” ucapnya.

Beragam sesi diskusi membahas isu-isu aktual seperti penguatan UMKM, pengembangan budaya lokal, kesiapsiagaan terhadap perubahan iklim, hingga peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal.

Farhan juga membeberkan potret kekuatan dan tantangan Kota Bandung melalui data Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2024. Bandung unggul dalam adopsi teknologi informasi (skor 5,00) dan inovasi (4,25), namun masih perlu berbenah dalam sistem keuangan (3,92), pasar tenaga kerja (3,72), dan dinamika bisnis (3,44).

“Meski kami punya kekuatan, tapi inklusi ekonomi dan pertumbuhan usaha daerah masih butuh perhatian bersama,” tegas Farhan.

Solidaritas Kota sebagai Pilar Peradaban Baru

Farhan menyebut kota-kota berkembang seperti Bandung membutuhkan kerja sama lintas negara untuk mengatasi hambatan struktural menuju pembangunan yang berkeadilan. Menurutnya, solidaritas bukan hanya pilihan moral, melainkan kebutuhan kolektif untuk bertahan di era krisis.

Ia juga mengajak seluruh kota di jaringan AACN untuk melibatkan generasi muda sebagai aktor utama pembangunan.

“Kami ingin Bandung menjadi model peradaban masa depan yang kolaboratif, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Farhan.

Simposium Bandung City Networking 2025 membuktikan bahwa semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 masih hidup dan terus berkembang. Dari Bandung, pesan solidaritas dan kolaborasi kota-kota Asia-Afrika kembali digaungkan, bukan hanya sebagai simbol sejarah, tetapi sebagai strategi untuk masa depan bersama.

Farhan pun mengakhiri pidatonya dengan apresiasi kepada peserta, mitra internasional, akademisi, dan komunitas yang telah menyukseskan acara ini.

“Semoga kita pulang dari sini dengan jejaring baru, ide segar, dan semangat kolaborasi yang mampu membawa perubahan nyata bagi kota-kota kita,” tutupnya.

Pos terkait