Wali Kota Farhan: Agama Jadi Benteng Terakhir Jaga Harmoni Kota Bandung yang Kosmopolitan

Wali Kota Farhan: Agama Jadi Benteng Terakhir Jaga Harmoni Kota Bandung yang Kosmopolitan

Bandung, Faktaindonesianews.com – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa agama memiliki peran krusial sebagai benteng terakhir dalam menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat, terutama di kota besar dan terbuka seperti Bandung. Di tengah dinamika kota yang terus bergerak maju, nilai-nilai keagamaan dinilai menjadi penopang utama agar kehidupan sosial tetap berjalan seimbang dan beradab.

Pernyataan tersebut disampaikan Farhan saat menghadiri kegiatan Open House dan Silaturahmi Keuskupan Bandung yang digelar di Katedral Bandung, Jumat malam (26/12/2025), dalam rangka perayaan Natal. Kehadiran Wali Kota Bandung dalam agenda lintas iman itu menjadi simbol dukungan pemerintah kota terhadap semangat toleransi dan kebersamaan.

Bacaan Lainnya

Farhan mengungkapkan, sejak awal perancangannya, Kota Bandung dibangun sebagai kota kosmopolitan. Kota ini dirancang sebagai pusat pertemuan berbagai latar belakang masyarakat, mulai dari suku, agama, budaya, hingga kelas sosial. Kondisi tersebut menjadikan Bandung tumbuh sebagai kota yang dinamis, kreatif, dan terbuka terhadap perbedaan.

“Bandung sejak awal dirancang sebagai kota kosmopolitan, tempat berputarnya berbagai elemen kehidupan. Semua elemen itu harus bergerak dalam harmoni. Tanpa harmoni, gesekan dan benturan sosial akan sangat mudah terjadi,” ujar Farhan.

Menurutnya, keterbukaan sebuah kota membawa banyak dampak positif, terutama dalam percepatan kemajuan ekonomi, pendidikan, dan budaya. Namun di sisi lain, keterbukaan juga membuka peluang masuknya nilai dan perilaku yang tidak selalu sejalan dengan nilai luhur kemanusiaan yang dijunjung masyarakat.

“Di sinilah agama menjadi penting. Agama dan ritual ibadah menjadi benteng terakhir antara masyarakat yang beradab dengan perilaku yang menyimpang dari nilai kemanusiaan,” ucapnya menegaskan.

Farhan juga menekankan bahwa perbedaan agama, suku, dan latar belakang sosial tidak boleh dipandang sebagai pemisah. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan bersama dalam membangun Kota Bandung yang inklusif dan berkeadaban.

“Perbedaan itu adalah keniscayaan. Tetapi sebagai satu keluarga besar Kota Bandung, kita harus mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan,” katanya.

Ia menilai kegiatan silaturahmi lintas iman seperti yang digelar Keuskupan Bandung memiliki arti strategis. Forum-forum tersebut menjadi ruang dialog, membangun komunikasi, serta memperkuat rasa persaudaraan antarumat beragama agar dinamika kota tetap berjalan sehat dan seimbang.

Lebih jauh, Farhan mengajak seluruh elemen masyarakat—tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, hingga pemerintah—untuk terus merawat kebersamaan dan persatuan. Menurutnya, visi Bandung sebagai kota unggul tidak akan tercapai tanpa fondasi nilai moral dan spiritual yang kuat.

“Bandung adalah kota yang terbuka dan milik semua. Karena itu, menjaga nilai, etika, dan rasa saling menghormati menjadi tanggung jawab kita bersama,” tuturnya.

Pos terkait