Bandung Diserbu 12 Juta Wisatawan, Wali Kota Farhan Soroti Peluang Ekonomi dan Tantangan Ketimpangan

Bandung Diserbu 12 Juta Wisatawan, Wali Kota Farhan Soroti Peluang Ekonomi dan Tantangan Ketimpangan

Faktaindonesianews.com, Bandung – Wali Kota Muhammad Farhan menyatakan bahwa Bandung kini semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, kota berjuluk Paris van Java itu berhasil menarik lebih dari 12 juta wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara.

Menurut Farhan, tingginya angka kunjungan wisata tersebut memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian daerah. Pergerakan wisatawan ikut meningkatkan aktivitas usaha, mempercepat perputaran uang, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Kota Bandung saat ini telah menjadi salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. Pada tahun 2025 saja tercatat lebih dari 12 juta wisatawan berkunjung ke Kota Bandung,” ujar Farhan pada Minggu, 15 Maret 2026.

Pariwisata Dorong Pergerakan Ekonomi Kota

Lonjakan jumlah wisatawan dinilai menjadi salah satu faktor penting yang menggerakkan roda ekonomi kota. Berbagai sektor seperti kuliner, perhotelan, perdagangan, hingga industri kreatif turut merasakan dampak dari meningkatnya kunjungan wisata.

Namun di sisi lain, Farhan menegaskan bahwa kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan kota. Infrastruktur, pelayanan publik, serta tata kelola kota harus terus diperbaiki agar mampu mendukung pertumbuhan sektor pariwisata yang semakin pesat.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Kota Bandung memang menunjukkan tren yang cukup positif. Meski demikian, kondisi ekonomi secara keseluruhan dinilai masih belum sepenuhnya kembali seperti sebelum pandemi.

Dampak Pandemi Masih Terasa

Farhan mengingatkan bahwa pandemi COVID-19 yang mulai melanda Indonesia pada Maret 2020 telah memberikan dampak besar terhadap berbagai sektor ekonomi di Kota Bandung.

Hingga kini, beberapa sektor masih berusaha bangkit dari tekanan ekonomi yang terjadi selama masa pandemi. Salah satu sektor yang terdampak cukup signifikan adalah transportasi, terutama setelah penutupan Bandara Husein Sastranegara, yang sebelumnya berperan penting dalam mendukung mobilitas wisatawan dan aktivitas ekonomi daerah.

Selain itu, sektor industri pengolahan juga mengalami pertumbuhan yang relatif kecil dalam beberapa tahun terakhir.

UMKM Jadi Motor Penggerak Ekonomi

Meski demikian, Farhan menilai bahwa pertumbuhan ekonomi tidak harus selalu bertumpu pada industri besar atau pabrik berskala besar. Ia menekankan bahwa usaha kecil dan menengah (UMKM) justru memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

Menurutnya, industri pengolahan dapat berkembang dari skala rumah tangga. Contohnya adalah usaha produksi makanan, pakaian, sepatu, tahu, hingga berbagai produk kerajinan yang banyak digeluti masyarakat.

“Industri pengolahan tidak harus selalu dalam skala besar. Usaha kecil di tingkat rumah tangga juga termasuk industri pengolahan,” ujarnya.

Pemerintah Kota Bandung, kata Farhan, akan terus mendorong pertumbuhan sektor usaha produktif melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Tantangan Ketimpangan Ekonomi

Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, Farhan juga menyoroti pentingnya pemerataan kesejahteraan di tengah masyarakat. Ia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi yang hanya bertumpu pada perusahaan besar berpotensi menimbulkan ketimpangan karena keuntungan hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

Sebaliknya, jika pertumbuhan ekonomi didorong oleh pelaku UMKM, manfaatnya akan lebih luas dirasakan oleh masyarakat.

Hal ini menjadi perhatian serius mengingat tingkat ketimpangan ekonomi di Kota Bandung masih tergolong tinggi. Berdasarkan data Gini Ratio dari Badan Pusat Statistik, angka ketimpangan di Kota Bandung saat ini berada di 0,42.

Angka tersebut memang sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 0,44, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di kisaran 0,36.

“Artinya sebagian besar sumber daya ekonomi masih dikuasai oleh kelompok masyarakat yang relatif kecil. Inilah tantangan besar yang harus kita hadapi bersama,” tutur Farhan.

Pos terkait