Jakarta, Faktaindonesianews.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Fokus pada peningkatan dana murah (Current Account Savings Account/CASA) menjadi kunci dalam menjaga efisiensi biaya dana sekaligus mendorong profitabilitas jangka panjang.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan perseroan secara konsisten mendorong pertumbuhan dana giro dan tabungan. Strategi ini berhasil menekan biaya dana atau Cost of Fund (CoF) sekaligus memperbesar ruang pertumbuhan.
“Komposisi ini menunjukkan strategi BRI yang konsisten dalam mendorong penghimpunan dana murah melalui optimalisasi transaction banking. Dengan CASA yang semakin dominan, biaya dana BRI dapat ditekan sehingga mendukung profitabilitas jangka panjang yang lebih baik,” ujar Hery, Kamis (4/9/2025).
Hingga akhir Juni 2025, total Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI tumbuh 6,7% secara tahunan (yoy) menjadi Rp1.482,12 triliun. Dari jumlah tersebut, porsi CASA mencapai 65,5%, atau naik 10,6% yoy.
Pertumbuhan CASA ini juga ditopang oleh kinerja kanal digital. Aplikasi BRImo mencatat lonjakan jumlah pengguna sebesar 21,2% yoy menjadi 42,7 juta user pada kuartal II/2025. Volume transaksinya naik 25,5% yoy hingga menyentuh Rp3.231,7 triliun.
Dari sisi merchant, transaksi bisnis BRI meningkat dengan volume penjualan naik 27,2% yoy menjadi Rp105,5 triliun, sementara jumlah transaksi melonjak 50,2% menjadi 308 juta. Kinerja QRIS BRI juga impresif dengan volume transaksi naik 142,9% yoy menjadi Rp37,2 triliun dan jumlah transaksi tumbuh 162,5% menjadi 313,7 juta.
“Capaian ini menegaskan bahwa transformasi digital BRI tidak hanya memperkuat basis dana murah, tetapi juga memperluas ekosistem pembayaran digital yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia,” kata Hery.
Hery menambahkan, upaya efisiensi ini turut ditopang oleh kebijakan moneter. Sejak Januari 2025, Bank Indonesia menurunkan BI Rate sebesar 100 basis poin hingga berada di level 5% pada Agustus 2025. Suku bunga antarbank ikut turun ke 4,68% per 20 Agustus 2025.
“Penurunan suku bunga juga turut menekan biaya dana perbankan, mendukung efisiensi dan membuka ruang untuk ekspansi kredit,” pungkasnya.






