Perkuat Kompetensi Analis Kerja Sama melalui Pelatihan Analisis Program Kerja Sama

Jakarta, Faktaindoensianews.com – Pusat Pembinaan Analis Kerja Sama (Pusbin AKS) Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) menyelenggarakan Pelatihan Fungsional AKS 01 – Analisis Program Kerja Sama Batch 2. Pelatihan yangi bekerja sama dengan Pusat Studi Hubungan Internasional (Parahyangan Center for International Studies/PACIS) Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) ini berlangsung selama lima hari, 5-9 Oktober 2026. Dan di laksanakan di Gedung Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (PPKASN), Jakarta, Senin (05/10/2026).

Dalam sambutannya, Andri Kurniawan menyampaikan bahwa Pelatihan Fungsional AKS 01 – Analisis Program Kerja Sama. Adalah merupakan program pengembangan kompetensi dasar yang penting. Dan wajib di ikuti oleh Pejabat Fungsional Analis Kerja Sama Ahli Pertama.

Bacaan Lainnya

“Di tengah dinamika tata kelola kerja sama pembangunan nasional dan internasional yang semakin kompleks. Kita membutuhkan JFAKS yang responsif, adaptif, serta mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berbasis data dan bukti,” ujar Andri.

Menurutnya, pelatihan tersebut menjadi bagian dari strategi pembinaan Pusbin AKS. Yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas JFAKS dalam mengelola kerja sama pembangunan. Sehingga dapat mendukung pencapaian prioritas pembangunan nasional.

Peserta Mempelajari Stakeholder Mapping.

Sejumlah materi dan perangkat analisis akan di berikan, antara lain pemanfaatan data, pemahaman regulasi, analisis isu menggunakan metode SWOT dan PESTLE, analisis risiko, serta Cost-Benefit Analysis. Peserta juga akan mempelajari pemetaan pemangku kepentingan (stakeholder mapping) dan integrasi perspektif gender dalam analisis program kerja sama.

Andri menekankan bahwa berbagai perangkat analisis yang di pelajari selama pelatihan di harapkan tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi dapat di terapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

“Yang jauh lebih penting adalah ketika pengetahuan dan berbagai tools yang di peroleh di sini dapat benar-benar di gunakan dalam pekerjaan, untuk menghasilkan analisis dan rekomendasi kerja sama yang lebih tajam, logis, dan aplikatif di instansi masing-masing,” tuturnya.

Evaluasi pembelajaran juga di lakukan melalui proses pembelajaran dan pengukuran hasil, termasuk pre-test dan post-test. Namun demikian, keberhasilan pelatihan tidak semata-mata di ukur berdasarkan capaian nilai, melainkan dari kemampuan peserta menerapkan pengetahuan dan perangkat analisis dalam pelaksanaan tugas.

Kemitraan Pusbin AKS dan UNPAR.

Kolaborasi Pusbin AKS dan PACIS UNPAR dalam pelatihan ini merupakan bagian dari upaya membangun fondasi pembelajaran. Yang sesuai dengan kebutuhan kompetensi JFAKS. Kepala PACIS UNPAR Yulius Purwadi Hermawan menyampaikan bahwa keterlibatan UNPAR dalam program pelatihan ini. Adalah merupakan bentuk kontribusi nyata akademisi dalam menyokong agenda besar pembangunan nasional.

Menurut Yulius, tata kelola kerja sama, baik pada tingkat internasional maupun domestik. Akan menjadi salah satu elemen penting dalam mendukung pembangunan nasional. Kompleksitas kerja sama saat ini juga menuntut aparatur untuk mampu memahami dan mengelola kerja sama dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

“Kerja sama adalah salah satu kunci utama. Saya berharap pelatihan ini dapat membekali Analis Kerja Sama dengan pemahaman yang holistik terhadap dinamika kerja sama. Yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari kementerian, pemerintah daerah, hingga sektor swasta,” kata Yulius.

Pelatihan ini di ikuti 30 Pegawai Negeri Sipil (PNS) Jabatan Fungsional Analis Kerja Sama (JFAKS) Ahli Pertama dari berbagai instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pelatihan Batch 2 merupakan kelanjutan dari penyelenggaraan Batch 1 yang telah di laksanakan pada Mei 2026.

Selama lima hari pelatihan, peserta akan memperkuat kompetensi dasar sebagai Analis Kerja Sama. Terutama kemampuan untuk melihat dan menganalisis program kerja sama secara kritis dan komprehensif. Melalui pelatihan ini, para Analis Kerja Sama di harapkan tidak hanya memiliki pemahaman yang lebih kuat mengenai analisis program kerja sama. Tetapi juga mampu menghasilkan analisis dan rekomendasi yang berbasis data juga komprehensif. Serta aplikatif untuk mendukung pengelolaan kerja sama yang berdampak dan berkelanjutan di instansi masing-masing.

Pos terkait