Majalengka, Faktaindonesianews.com – Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang serba cepat, ada satu hal yang selalu menampar kesadaran kita: tradisi tidak pernah benar-benar mati; yang mati hanyalah perhatian kita terhadapnya. Dan malam di Festival Bumi Bantaragung itu membuktikannya dengan cara yang sederhana, tetapi menusuk: denting genjring, bau tanah lembap, dan siluet para penari perempuan yang bersimpuh—menandai dimulainya sebuah kesenian tua bernama Genjring Sintren.
Kesenian ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah jejak panjang negosiasi budaya: antara Islam dan animisme, antara doa dan mantra, antara tubuh perempuan dan ritus kolektif, antara sakral dan hiburan. Di titik inilah Sintren berbeda dari ratusan seni tradisi lainnya. Ia tidak hanya dipertunjukkan—ia dihadirkan.
Genjring Sintren adalah bentuk perlawanan halus terhadap budaya instan. Penari Sintren, yang masuk ke kurungan dalam keadaan terikat lalu keluar sebagai sosok penari dengan kostum lengkap, adalah simbol transformasi: bahwa sesuatu yang dijaga dan dirawat akan muncul kembali lebih indah daripada ketika ia ditinggalkan. Sebuah pesan yang seharusnya menampar kaum muda dan para pengambil kebijakan budaya: tradisi itu bukan warisan, melainkan tugas.
Ironisnya, kesenian seperti ini lebih sering dianggap hiburan periferal ketimbang warisan intelektual bangsa. Padahal, apa yang lebih intelektual daripada ritual yang mampu bertahan ratusan tahun? Apa yang lebih filosofis daripada masyarakat yang memadukan rebana, shalawat, dan transformasi spiritual dalam satu panggung bambu?
Dalam Genjring Sintren, masyarakat pesisir–pedalaman Jawa Barat membuktikan bahwa budaya bukan sekadar masa lalu; ia adalah identitas yang terus diperbarui. Ketika penabuh genjring memukul dengan ritme cepat, itu bukan hanya musik—itu adalah deklarasi bahwa mereka masih ada, masih hidup, dan masih memiliki suara.
Festival Bumi Bantaragung Kabupaten Majalengka, Jawa Barat malam itu bukan sekadar event. Ia adalah pengingat keras bahwa negara boleh saja abai, kurikulum boleh menggulung budaya lokal seperti sampah, tetapi masyarakat tidak pernah kehabisan cara untuk menjaga akarnya. Dan selama ada orang-orang yang mau duduk di panggung bambu, menabuh rebana, atau menari dalam kesadaran spiritual, maka Genjring Sintren tidak akan tumbang oleh TikTok, algoritma, atau kapitalisme hiburan.
Kita perlu mengakui: Bangsa ini tidak kekurangan tradisi, yang kurang adalah keberanian untuk merawatnya.
Dan Genjring Sintren—dengan kesederhanaan dan magisnya—mengajarkan satu hal penting: Tradisi yang hidup bukan yang dipajang, melainkan yang diperjuangkan.
Itulah pesan paling tajam dari panggung bambu itu. Dan semoga kita cukup waras dan cukup berani untuk tidak mengkhianatinya./djohar






