Faktaindonesianews.com, Tasikmalaya – Suasana belajar mengajar di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, mendadak berubah menjadi momen penuh haru pada Jumat (27/2/2026). Deucu Nursaidah, guru Bahasa Arab yang telah mengabdi selama 10 tahun mendidik santri kelas 1 hingga 6, mendapatkan kejutan istimewa yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Semua bermula saat Kapolda Jawa Barat, Rudi Setiawan, memasuki ruang kelas tempat Deucu mengajar. Dengan suasana santai dan penuh kehangatan, jenderal bintang dua itu menyapa para santri serta berbincang ringan tentang proses belajar mengajar. Tak ada yang menyangka, percakapan sederhana itu akan berujung pada kabar membahagiakan.
Di tengah dialog, Kapolda Jabar secara spontan menawarkan hadiah ibadah umrah bagi Deucu dan suaminya. Tawaran tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi panjangnya dalam membina pendidikan Islam dan membentuk karakter generasi muda.
Mendengar kabar itu, Deucu tampak terdiam. Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar. Ia berulang kali mengucap syukur dan tak kuasa menahan tangis haru. Momen tersebut semakin menguat ketika di hadapan Pimpinan Ponpes Cipasung, KH Ubaidillah Ruhiyat, Kapolda secara resmi meminta izin untuk memberangkatkan Deucu ke Tanah Suci. Permintaan itu langsung mendapat restu hangat dari sang ulama.
Bagi Deucu, hadiah ini terasa seperti jawaban atas doa panjangnya. Ia mengaku telah mendaftar haji sejak 2020, namun memahami bahwa antrean keberangkatan masih sangat lama. Kesempatan umrah yang datang tiba-tiba ini membuat impiannya menjejakkan kaki di Mekah terasa lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
“Saya seperti bermimpi,” ungkapnya lirih sambil menyalami Kapolda.
Ia pun mendoakan agar kebaikan Irjen Rudi Setiawan dibalas oleh Allah SWT dan menjadi jalan kebaikan bagi sang Kapolda. Peristiwa ini menjadi gambaran nyata sisi humanis kepolisian, yang tak hanya hadir menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga memberikan penghargaan tulus kepada para pendidik yang mengabdikan hidupnya untuk membangun karakter bangsa.
Momen haru di ruang kelas sederhana itu membuktikan bahwa penghargaan tidak selalu harus megah. Terkadang, apresiasi yang datang dengan ketulusan justru meninggalkan kesan paling mendalam.
