Jembatan Cirahong Tanpa Penjaga, Lalu Lintas Dua Arah Picu Kebingungan dan Kekhawatiran Pengendara

Jembatan Cirahong Tanpa Penjaga, Lalu Lintas Dua Arah Picu Kebingungan dan Kekhawatiran Pengendara

Faktaindonesianews.com, Ciamis – Arus lalu lintas di Jembatan Cirahong kini mengalami perubahan signifikan setelah dihentikannya sementara aktivitas penjaga jembatan. Sejak Minggu (5/4/2026), jalur tersebut bisa dilalui dua arah secara bersamaan oleh pengendara sepeda motor dan pejalan kaki.

Namun, kondisi ini justru memunculkan kebingungan di kalangan pengguna jalan. Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah pengendara tampak ragu saat melintas. Mereka terlihat masih terbiasa dengan sistem buka-tutup yang sebelumnya diatur oleh para penjaga jembatan.

Bacaan Lainnya

Tak sedikit pula pengendara yang memilih berhenti sejenak, terutama ketika kendaraan datang dari arah Tasikmalaya menuju Ciamis. Padahal, secara teknis jembatan tersebut kini dapat dilalui dua arah sekaligus, meskipun tetap membutuhkan kewaspadaan tinggi.

Sebagai salah satu jalur penghubung penting, Jembatan Cirahong dikenal memiliki karakteristik jalan yang sempit. Kondisi ini semakin berisiko saat hujan turun karena permukaan jalan menjadi licin, sehingga pengendara yang belum terbiasa diimbau untuk ekstra hati-hati.

Penghentian Penjaga Usai Viral Dugaan Pungli

Dihentikannya penjaga jembatan bukan tanpa alasan. Keputusan ini diambil setelah beredarnya video viral di media sosial yang menyoroti dugaan praktik pungutan liar (pungli) di lokasi tersebut.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Desa Pawindan dan Desa Panyingkiran di wilayah Kecamatan Ciamis sepakat menghentikan sementara aktivitas para penjaga. Kebijakan ini juga telah melalui koordinasi dengan pihak kepolisian guna menghindari polemik lebih lanjut di masyarakat.

Warga Nilai Penjaga Tetap Dibutuhkan

Meski demikian, sejumlah warga justru merasa kehilangan peran penjaga jembatan. Salah satunya Ade, warga Baregbeg, yang mengaku lebih nyaman jika ada petugas yang mengatur arus lalu lintas.

Menurutnya, sistem buka-tutup yang sebelumnya diterapkan membuat pengguna jalan lebih tertib dan aman. Selain itu, penjaga juga kerap membantu pengendara yang mengalami kendala, seperti motor mogok atau rasa takut saat melintas.

“Kalau tidak ada yang jaga, rasanya lebih berbahaya. Kadang ada yang mogok, biasanya langsung dibantu,” ungkapnya.

Ade yang sehari-hari berjualan kerupuk juga mengaku sangat bergantung pada akses Jembatan Cirahong. Ia menyebut, jika harus memutar melalui Kota Tasikmalaya, jarak tempuh menjadi jauh lebih panjang dan tidak efisien.

Selain faktor jarak, aspek keamanan juga menjadi perhatian. Ia menilai keberadaan penjaga sangat membantu, terutama saat melintas di malam hari. Minimnya penerangan di area jembatan yang berada di atas Sungai Citanduy membuat suasana terasa rawan.

Pemerintah Desa Soroti Risiko Keselamatan

Kepala Desa Pawindan, Ahmad Kartoyo, mengungkapkan bahwa penghentian penjaga dilakukan sejak Sabtu (4/4/2026). Ia bahkan turun langsung ke lokasi pada malam hari untuk melihat kondisi terkini.

Menurutnya, situasi di sekitar jembatan cukup gelap karena jauh dari permukiman warga. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi kecelakaan maupun tindak kriminal.

“Biasanya ada penjaga 24 jam. Pengguna jalan merasa lebih aman karena ada yang membantu dan mengawasi,” jelasnya.

Ia menambahkan, tanpa adanya penjaga, arus lalu lintas kini menjadi lebih semrawut karena kendaraan melintas dua arah tanpa pengaturan. Meskipun sepeda motor masih bisa berpapasan, lebar jalan yang terbatas tetap berisiko tinggi.

Pemerintah desa pun mengimbau seluruh pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan saat melintasi jembatan tersebut, terutama bagi mereka yang membawa barang atau belum terbiasa dengan kondisi jalur.

Pos terkait