Kebakaran Mobil Listrik di Penjaringan Tewaskan Lima Orang, Pakar Soroti Sistem Pengisian Daya

Kebakaran Mobil Listrik di Penjaringan Tewaskan Lima Orang, Pakar Soroti Sistem Pengisian Daya

Faktaindonesianews.com – Insiden kebakaran mobil listrik (electric vehicle/EV) di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, yang menewaskan lima orang, menjadi perhatian serius publik. Dugaan sementara mengarah pada masalah sistem pengisian daya baterai yang tidak didukung infrastruktur kelistrikan memadai di rumah korban. Api diduga muncul saat proses charging berlangsung dan dengan cepat membesar hingga melalap bangunan.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan kebakaran kendaraan listrik sering bermula dari charger berkualitas rendah atau instalasi listrik rumah yang tidak dirancang menahan arus tinggi. Kondisi tersebut dapat memicu overheating, korsleting, hingga percikan api awal yang berbahaya.

Bacaan Lainnya

“Tampaknya kebakaran pada EV sering dimulai dari sistem pengisian daya. Charger atau instalasi listrik rumah yang tidak memadai bisa menyebabkan overheating dan korsleting,” ujar Yannes melalui pesan singkat, Senin (22/12).

Meski petugas belum menyebutkan merek kendaraan secara resmi, mobil listrik yang terbakar diduga merupakan produk keluaran Wuling. Yannes menekankan bahwa risiko semakin besar ketika proses charging melibatkan arus listrik tinggi tanpa perlindungan sistem kelistrikan yang sesuai standar.

Bahaya Bahan Mudah Terbakar dan Efek Domino

Situasi semakin fatal ketika kebakaran awal terjadi di dekat bahan mudah terbakar, seperti thinner dan cat. Menurut Yannes, keberadaan material tersebut mempercepat penyebaran api dan menciptakan efek domino yang sulit dikendalikan.

“Interaksi awal ini bisa cepat eskalasi jika berada di dekat bahan mudah terbakar seperti thinner atau cat,” jelasnya.

Setelah api muncul, baterai kendaraan listrik, termasuk jenis lithium ferro phosphate (LFP), berpotensi memicu thermal runaway. Kondisi ini menyebabkan pelepasan energi tak terkendali, disertai gas mudah terbakar dan ledakan termal yang menghasilkan asap beracun.

Parkir di Ruang Sempit Perparah Dampak

Berdasarkan informasi awal, mobil listrik tersebut diparkir di ruang tertutup dan sempit. Kondisi ini memperburuk situasi karena panas dan gas beracun terperangkap, sehingga menghambat evakuasi korban dan proses pemadaman api.

“Parkir di ruang tertutup dan sempit membuat kejadian semakin fatal karena akumulasi panas dan gas,” kata Yannes.

Langkah Pencegahan untuk Pemilik Mobil Listrik

Sebagai upaya pencegahan, Yannes menyarankan pemilik battery electric vehicle (BEV) menerapkan sistem keamanan berlapis. Mulai dari menggunakan charger asli bersertifikat, memasang pemutus arus otomatis oleh teknisi berkompeten, hingga melakukan pemeriksaan rutin kabel pengisian, termasuk risiko kerusakan akibat gigitan hewan.

Ia juga merekomendasikan agar mobil listrik diparkir di area terbuka atau terpisah dari bangunan utama, memiliki ventilasi baik, serta jauh dari bahan mudah terbakar. Lingkungan rumah sebaiknya dilengkapi APAR khusus baterai dan jalur evakuasi bebas hambatan.

Kronologi Versi Petugas Damkar

Insiden kebakaran terjadi di Jalan Lopis Teluk Gong, Pejagalan, Penjaringan, pada Kamis (18/12) pukul 20.13 WIB. Kasiops Damkar Jakarta Utara Gatot Sulaiman mengatakan kebakaran bermula dari ledakan saat pengisian daya mobil listrik, lalu api menyambar minyak thinner dan kaleng cat.

Pemadaman berlangsung hingga Jumat (19/12) pukul 08.08 WIB, melibatkan 22 unit mobil pemadam dan 110 personel. Api melalap satu rumah kosong dan dua rumah warga yang digunakan sebagai tempat usaha.

Lima korban meninggal dunia terdiri dari perempuan berinisial B (56), pria TAM (70), perempuan NTL (24), anak perempuan GSL (7), serta seorang pengasuh bayi.

Pos terkait