Majalengka, Faktaindonesianews.com – Sepertinya api lama belum benar-benar padam. Bahkan kini bara itu mulai menyala lagi, menyusup ke sela-sela aset pemerintah, menyengat wajah-wajah lama yang selama ini nyaman bermain di balik meja kekuasaan.
Kejaksaan Negeri (Kejari) Majalengka tengah mengintensifkan penyidikan atas dugaan penyimpangan dana pemanfaatan aset milik Pemerintah Kabupaten Majalengka, yang dikelola melalui Perseroda (Perusahaan Daerah PT. Sindangkasih Multi Usaha. Tak banyak bicara, tapi gerak mereka mengundang perhatian bahkan ketegangan.
Sumber di lingkungan kejaksaan menyebut, penyidik menemukan adanya indikasi kuat bahwa aset milik pemerintah dijadikan sapi perah oleh sejumlah oknum, yang memanfaatkan celah kebijakan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. “Sederhananya begini,” ujar seorang pejabat yang minta namanya disamarkan, “asetnya punya negara, tapi yang menikmati hasilnya seperti perusahaan keluarga.”
Jejak Lama, Aktor Lama, Pola yang Sama, Kasus seperti ini ibarat lembaran lama yang dibuka kembali.
Nama-nama yang sempat tenggelam kini muncul perlahan,
beberapa bahkan mantan tahanan yang sekarang justru duduk di balik kursi pengambil kebijakan.
Sebagian publik menilai, aroma ini tak asing.
Korupsi aset di Majalengka bukan kabar baru,
hanya wajah pelakunya yang berganti baju dari “tersangka” jadi “tuan terhormat”.
Main Api di Ladang Basah, Dalam catatan investigatif kami, permainan ini lazim disebut “ladang basah” aset negara yang disulap jadi mesin pencetak pundi-pundi pribadi.
Tak perlu izin ketat, cukup rekomendasi politik dan sedikit basa-basi.
Sementara rakyat sibuk mengurus pupuk subsidi dan harga cabai,
mereka sibuk membagi-bagi lahan basah dari meja ke meja.
Tidak semua kena air, tapi hampir semua kecipratan.
Keadilan, Akan Sampai atau Tersesat Lagi. Bagi publik Majalengka yang sudah terlalu sering disuguhi sandiwara penegakan hukum, pertanyaannya cuma satu:
“Akan ada yang benar-benar masuk penjara, atau sekadar diperiksa lalu dilupakan?”
Sejumlah aktivis LSM bahkan menyebut ini sebagai “gelombang kedua pembersihan elite lokal.”
Tapi mereka juga tahu: “Di Majalengka, yang main api itu bukan cuma satu tangan. Kadang si pembawa ember air pun ternyata pemilik korek.”
Ini Bukan Sekadar Kasus
“Luar biasa tenangnya DPRD Majalengka. Bahkan hening mereka lebih khusyuk dari malam Lailatul Qadar,” ujar seorang warga dengan nada getir.
Kehilangan Rp 2,3 Miliar Bukan Uang Receh, Ini bukan kasus remeh.
Ini bukan cuma soal laporan audit.
Ini soal kepercayaan publik,
yang terkikis setiap kali pejabat diam saat kejahatan ekonomi terjadi di depan mata.”
Bagi yang merasa sedang bermain api,
ingatlah, ini bukan musim kemarau.
Sekali bara menyala, ia bisa menjilat hingga ke ruang tamu yang paling nyaman.
Dan bagi mereka yang dulu sudah pernah disentuh bara ini jangan berpikir apinya sudah mati.
Karena bisa jadi, yang menyulutnya kembali adalah mereka yang dulu nyaris kalian bakar.
johar






