Faktaindonesianews.com – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar kirab budaya bertajuk “Kawali Balik ka Diri” pada Minggu, 3 Mei 2026. Kegiatan yang digagas oleh Dedi Mulyadi ini bertujuan mengangkat kembali identitas budaya Sunda sekaligus menjadi sarana edukasi sejarah bagi masyarakat luas.
Kirab ini menjadi bagian penting dari rangkaian Milangkala Tatar Sunda yang sarat nilai historis dan filosofi.
Berbasis Kajian Sejarah dan Artefak Kerajaan Sunda
Penyelenggaraan kirab tidak dilakukan secara seremonial semata, melainkan didasarkan pada kajian sejarah mendalam. Salah satunya melalui penelusuran artefak penting seperti Mahkota Binokasih yang tersimpan di Sumedang.
Panitia Milangkala Tatar Sunda, Budi Kurnia, mengungkapkan bahwa hasil penelitian menunjukkan mahkota tersebut memiliki kadar emas sekitar 18,8 karat dan diperkirakan berasal dari abad ke-14 atau sekitar tahun 1370-an.
“Mahkota ini menjadi bukti autentik perjalanan sejarah Sunda. Berdasarkan data historis, mahkota Binokasih sempat berada di wilayah Galuh dan Bogor sebelum akhirnya menetap di Sumedang,” jelasnya, Senin (04/05/2026).
Strategi Dorong Pariwisata Jawa Barat
Selain edukasi sejarah, kirab budaya ini juga diproyeksikan sebagai strategi untuk meningkatkan sektor pariwisata di Jawa Barat. Menurut Budi, pembangunan infrastruktur yang semakin merata perlu didukung dengan event berskala besar agar mampu menarik wisatawan.
“Infrastruktur yang baik butuh daya tarik. Tanpa event, orang tidak punya alasan kuat untuk berkunjung. Kirab budaya inilah yang kita dorong sebagai magnet baru pariwisata Jawa Barat,” tegasnya.
Dampak Ekonomi Mulai Terasa di Daerah
Dampak positif kegiatan ini langsung dirasakan masyarakat. Di wilayah Kawali, Ciamis, hingga Sumedang, tingkat hunian hotel dan homestay dilaporkan meningkat signifikan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjaga identitas daerah, tetapi juga mampu memberikan efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.
“Sesuai laporan masyarakat, hotel dan homestay penuh. Ini menandakan kegiatan ini menjadi magnet yang sangat ditunggu oleh masyarakat dari berbagai daerah,” tambahnya.
Meriah dengan Kesenian dan Partisipasi 27 Daerah
Kirab budaya berlangsung meriah dengan menampilkan berbagai atraksi seperti kereta kencana, pertunjukan kuda, serta puluhan kesenian tradisional. Perwakilan dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat hingga kampung adat turut dilibatkan sebagai simbol kekayaan budaya Sunda.
Sebanyak sembilan kabupaten/kota direncanakan menjadi titik persinggahan kirab sepanjang tahun 2026.
Direncanakan Jadi Agenda Tahunan
Ke depan, kirab “Kawali Balik ka Diri” dirancang menjadi agenda rutin tahunan dengan rute yang dinamis. Meski demikian, jalur utama Sumedang – Ciamis akan tetap dipertahankan sebagai poros utama perjalanan budaya ini.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya Sunda sekaligus menjadikan Jawa Barat sebagai pusat destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia.






