Faktaindonesianews.com – Menjadi seorang Mantri BRI tidak selalu berarti bekerja dari balik meja dan menunggu nasabah datang ke kantor. Bagi Alifia Naura Nazifah, Mantri BRI Unit Sumber Hidup, BRI Branch Office Kayu Agung, pekerjaannya justru banyak dilakukan dengan menyusuri jalan antardesa untuk menemui masyarakat secara langsung.
Medan yang dihadapi Alifia cukup beragam. Wilayah Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, memiliki kawasan perkebunan dan permukiman yang tersebar cukup jauh. Ketika musim hujan tiba, sejumlah jalan tanah dapat berubah menjadi licin dan berlumpur sehingga perjalanan menuju lokasi debitur membutuhkan kehati-hatian ekstra.
Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi Alifia untuk menjalankan tugasnya. Dengan sepeda motor, ia mendatangi masyarakat yang menjadi debitur di Desa Tanjung Makmur, Desa Kayu Labu, dan Desa Sido Mulyo.
Para debitur yang dilayaninya memiliki latar belakang usaha yang beragam. Banyak di antara mereka mengandalkan penghasilan dari perkebunan kelapa sawit dan karet. Ada pula masyarakat yang mengembangkan usaha perdagangan seperti toko sembako dan usaha manisan.
Bagi Alifia, kedekatan dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjalankan tugas sebagai tenaga perbankan di wilayah perdesaan.
“Keputusan saya bergabung dengan BRI sebagai Mantri didasari oleh keinginan kuat untuk berkontribusi secara nyata pada pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan, khususnya di wilayah Sumatera Selatan,” kata Alifia dalam keterangan resmi, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, luasnya jaringan Bank Rakyat Indonesia (BRI) memberikan kesempatan bagi seorang Mantri untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan akses permodalan. Karena itu, pekerjaannya tidak sebatas menawarkan produk pembiayaan, tetapi juga membangun hubungan dengan masyarakat dan memahami kebutuhan usaha mereka.
Temui Debitur hingga ke Kebun Sawit dan Karet
Aktivitas Alifia di lapangan membuatnya berinteraksi langsung dengan para pelaku usaha. Saat berkunjung, ia tidak hanya menanyakan kewajiban pembiayaan, tetapi juga melihat bagaimana usaha debitur berkembang.
Ia berdiskusi mengenai kondisi usaha, mendengarkan berbagai persoalan yang dihadapi, serta melihat langsung aktivitas ekonomi masyarakat di kebun maupun tempat usaha.
Pendekatan tersebut dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan debitur. Alifia menyadari bahwa karakter masyarakat desa memiliki keunikan tersendiri sehingga komunikasi yang terbuka dan humanis menjadi hal penting.
“Membangun kepercayaan masyarakat desa memerlukan pendekatan humanis yang berlandaskan kearifan lokal. Saya selalu berusaha untuk bersikap terbuka, ramah, dan hadir bukan sekadar sebagai pihak perbankan, melainkan sebagai kawan diskusi yang memahami tantangan keseharian mereka,” ujarnya.
Kedekatan dengan debitur juga membantunya memahami kebutuhan pembiayaan secara lebih menyeluruh. Dengan mengetahui kondisi usaha secara langsung, Alifia dapat membantu mengarahkan masyarakat pada solusi pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan usahanya.
KUR dan Kupedes Dukung Pengembangan Usaha Warga
Salah satu pembiayaan yang menjadi bagian dari layanan kepada masyarakat adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kupedes. Pembiayaan tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari modal kerja hingga investasi dan pengembangan usaha.
Bagi petani perkebunan, kebutuhan modal tidak hanya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Pengelolaan kebun juga membutuhkan biaya untuk pemeliharaan hingga peremajaan lahan, sehingga akses pembiayaan dapat menjadi salah satu pendukung keberlangsungan usaha.
Dalam menjalankan tugasnya, Alifia juga harus menyesuaikan strategi dengan kondisi wilayah. Ketika akses menuju lokasi debitur sulit ditempuh, ia terlebih dahulu berkoordinasi dengan tokoh masyarakat maupun ketua kelompok tani.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan debitur berada di lokasi sebelum perjalanan dilakukan. Cara ini sekaligus memperkuat hubungan antara BRI dengan masyarakat setempat.
Dari Berkas Kredit hingga Harapan Keluarga
Bagi Alifia, pengalaman bertemu langsung dengan masyarakat memberikan makna lebih dalam terhadap pekerjaannya. Setiap debitur memiliki cerita, kebutuhan, serta harapan yang berbeda.
Interaksi dengan ratusan debitur membuatnya melihat bahwa pembiayaan perbankan bukan sekadar angka dalam dokumen. Di balik setiap pengajuan kredit terdapat usaha yang sedang dibangun dan keluarga yang berharap kehidupannya dapat berkembang menjadi lebih baik.
“Pelajaran hidup terbesar yang saya peroleh adalah pentingnya empati, ketekunan, dan rasa syukur. Berinteraksi langsung dengan ratusan debitur mengajari saya bahwa di balik setiap berkas kredit yang disetujui, ada harapan sebuah keluarga untuk kehidupan yang lebih sejahtera,” tutur Alifia.
Pengalaman tersebut turut membentuk cara pandangnya dalam menjalankan profesi. Tantangan perjalanan, kondisi usaha masyarakat, hingga berbagai persoalan yang ditemui di lapangan menjadi pengalaman berharga yang tidak selalu diperoleh dari pekerjaan di dalam kantor.






