Pemprov Jabar Dorong Psikolog Klinis Hadir di Puskesmas, Targetkan 500 Unit di 2026

Bandung, Faktaindonesianews.com – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan komitmennya menghadirkan psikolog klinis di Puskesmas, demi memperkuat layanan kesehatan jiwa di tingkat primer. Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan dalam acara Sosialisasi Peran Psikolog Klinis dalam Penguatan Pelayanan Kesehatan Jiwa di Puskesmas Se-Jawa Barat di Gedung Sate, Jumat (9/5/2025).

 

Bacaan Lainnya

Menurut Erwan, kehadiran psikolog klinis di Puskesmas sangat penting untuk pencegahan, deteksi dini, intervensi, hingga rehabilitasi masalah kesehatan jiwa.

 

“Psikolog klinis adalah elemen esensial di Puskesmas. Layanan yang profesional di tingkat primer akan membantu menurunkan beban rumah sakit jiwa dan rumah sakit rujukan,” ujar Erwan.

 

Ia menargetkan, pada tahun depan, 300 hingga 500 Puskesmas di Jabar sudah memiliki psikolog klinis. Ke depan, layanan ini diharapkan merata di lebih dari 1.000 Puskesmas yang tersebar di Jawa Barat.

 

Namun, Erwan menekankan bahwa kesiapan SDM menjadi kunci keberhasilan.

 

“Jangan hanya rapat, tapi tidak ada implementasi. Harus ada aksi nyata, dengan persiapan matang,” tegasnya.

 

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jabar Herman Suryatman mengungkapkan keprihatinannya atas tingginya prevalensi depresi di Jawa Barat, yang mencapai 3,3 persen berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI).

 

“Jawa Barat harus bertransformasi dari provinsi dengan tingkat depresi tertinggi menjadi provinsi paling bahagia,” kata Herman.

 

Ia memaparkan, faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu utama tekanan mental masyarakat. Hal ini tercermin dari data 96.000 kasus perceraian di Jabar, dengan 90.000 gugatan diajukan oleh perempuan. Selain itu, maraknya pinjaman online dan judi daring yang bahkan menjangkiti anak-anak turut memperparah kondisi.

 

Menghadapi tantangan ini, Herman menekankan bahwa penanganan kesehatan jiwa harus lebih mengedepankan upaya promotif dan preventif, bukan semata-mata kuratif.

 

“Puskesmas bisa mulai jalan dulu, meski belum sempurna. Sambil berjalan kita terus sempurnakan. Jangan menunggu semua sempurna baru bergerak,” serunya.

 

Ia juga meminta dukungan dari pemerintah pusat untuk mempercepat pengadaan formasi psikolog klinis, terutama untuk Puskesmas yang sudah berbadan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan memiliki kemandirian fiskal.

 

“Tujuan kita jelas, meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat secara konkret, bukan sekadar menambah formasi,” pungkas Herman.

 

Dengan semangat aksi nyata, Pemprov Jabar optimistis transformasi kesehatan jiwa berbasis masyarakat dapat segera terwujud.

Pos terkait