Faktaindonesianews.com – Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan pandangannya mengenai pentingnya persatuan nasional di tengah dinamika politik Tanah Air. Dalam pidatonya di Museum Marsinah, Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5), Prabowo menyampaikan bahwa sosok proklamator sekaligus Presiden pertama Indonesia, Soekarno atau Bung Karno, bukan hanya milik kelompok tertentu ataupun partai politik tertentu, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia.
Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian publik karena selama ini nama Bung Karno kerap dikaitkan erat dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP yang dipimpin oleh putri Bung Karno, Megawati Soekarnoputri. Namun menurut Prabowo, sejarah perjuangan bangsa tidak boleh dibatasi oleh sekat politik maupun kepentingan kelompok.
Dalam pidatonya, Prabowo mengaku banyak mempelajari pemikiran dan ajaran Bung Karno. Ia bahkan menilai bahwa semangat nasionalisme yang diwariskan para pendiri bangsa masih sangat relevan untuk menghadapi tantangan Indonesia saat ini. Di hadapan masyarakat dan kaum buruh yang hadir, Prabowo mengatakan bahwa dirinya memiliki pandangan yang sejalan dengan nilai-nilai perjuangan yang pernah dibangun Bung Karno.
Menurut Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya tersebut, tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno, Mohammad Hatta, hingga Sutan Sjahrir merupakan milik bangsa Indonesia secara keseluruhan. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diminta untuk tidak memonopoli sejarah perjuangan nasional demi kepentingan politik tertentu.
Prabowo juga menekankan bahwa kekuatan besar Indonesia akan lahir apabila seluruh rakyat mampu menyatukan pemikiran dan semangat dari para pendiri bangsa. Ia menilai, Indonesia tidak akan berkembang maksimal jika masyarakat terus terjebak dalam polarisasi politik dan ego kelompok. Baginya, nilai utama yang diwariskan para tokoh bangsa adalah semangat gotong royong, persatuan, serta keberanian menjaga kedaulatan negara.
Selain berbicara soal sejarah dan nasionalisme, Prabowo turut menyinggung arah kebijakan luar negeri Indonesia yang menurutnya tetap berpegang pada prinsip bebas aktif dan non-blok. Ia mengaku memegang teguh ajaran para ulama dan orang tua yang selalu mengutamakan persahabatan serta menghormati sesama bangsa. Prinsip “seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak” disebut masih menjadi landasan penting dalam membangun hubungan internasional Indonesia di tengah situasi global yang dinamis.
