Siskamling Siaga Bencana Bandung Capai Titik ke-88, Warga Didorong Aktif Deteksi Dini Risiko Lingkungan

Siskamling Siaga Bencana Bandung Capai Titik ke-88, Warga Didorong Aktif Deteksi Dini Risiko Lingkungan

Faktaindonesianews.com, BANDUNG – Program Siskamling Siaga Bencana kembali digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung sebagai langkah strategis memperkuat kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai potensi risiko di lingkungan. Kali ini, kegiatan tersebut berlangsung di Kelurahan Sekejati pada Rabu, 8 April 2026, sekaligus menjadi pelaksanaan ke-88 sejak program ini diluncurkan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa Siskamling tidak lagi hanya berfungsi sebagai sistem keamanan lingkungan, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam deteksi dini bencana, terutama di tengah kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.

Bacaan Lainnya

“Sejak awal, Siskamling ini memang kita rancang sebagai siaga bencana. Kita merasakan sendiri bagaimana cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan pohon tumbang hingga mengganggu aktivitas warga,” ujar Farhan.

Respons Cepat Hadapi Dampak Cuaca Ekstrem

Farhan mencontohkan kejadian cuaca ekstrem yang melanda Kota Bandung beberapa hari terakhir, di mana sejumlah pohon besar tumbang di berbagai titik. Meski sempat mengganggu aktivitas masyarakat, Pemkot Bandung dinilai sigap dalam melakukan penanganan.

“Kota Bandung relatif cepat pulih. Namun kewaspadaan harus tetap kita jaga, karena potensi cuaca ekstrem masih ada,” katanya.

Hal ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan berbasis komunitas agar dampak bencana dapat diminimalisir sejak dini, tanpa harus menunggu penanganan dari pemerintah semata.

Peran Strategis RW dan Data Laci RW

Dalam forum tersebut, Farhan juga menyoroti pentingnya peran aktif warga di tingkat Rukun Warga (RW) dalam mengidentifikasi berbagai persoalan lingkungan. Menurutnya, pendekatan kewilayahan menjadi kunci utama dalam menghadirkan solusi yang lebih tepat sasaran.

Ia menambahkan, program Laci RW kini menjadi salah satu fondasi utama dalam perencanaan pembangunan berbasis data di Kota Bandung. Melalui data yang dikumpulkan langsung dari masyarakat, kebijakan yang diambil menjadi lebih akurat dan sesuai kebutuhan riil.

“Sekarang arah pembangunan kita berbasis data. Kita tidak ingin semua diseragamkan, karena setiap wilayah memiliki karakter dan persoalan yang berbeda,” jelasnya.

Aspirasi Warga: Dari Banjir hingga Penerangan Jalan

Dalam dialog bersama warga, berbagai persoalan kewilayahan turut disampaikan, mulai dari banjir akibat luapan sungai, kondisi jalan yang belum optimal, drainase yang tersumbat, hingga kebutuhan penerangan jalan umum.

Menanggapi hal tersebut, Farhan memastikan seluruh laporan akan ditindaklanjuti melalui survei teknis dan pemetaan prioritas oleh perangkat daerah terkait.

“Kita petakan satu per satu. Semua akan disurvei dan ditindaklanjuti sesuai prioritas,” tegasnya.

Gotong Royong Jadi Kunci Ketahanan Lingkungan

Lebih jauh, Farhan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat budaya gotong royong dan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan lingkungan. Ia menekankan bahwa keberhasilan program Siskamling Siaga Bencana sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

“Siskamling ini bukan hanya soal ronda, tapi bagaimana kita bersama-sama menjaga lingkungan dan mengantisipasi risiko sejak dini,” tuturnya.

Pos terkait