Tetsuya Chiba, Kreator Manga Ashita no Joe, Meninggal Dunia pada Usia 87 Tahun

Faktaindonesianews.com – Dunia manga Jepang berduka atas kepergian Tetsuya Chiba, mangaka legendaris yang dikenal sebagai kreator di balik karya ikonis Ashita no Joe. Chiba meninggal dunia pada usia 87 tahun di sebuah rumah sakit di Tokyo, Kamis (22/10/2026).

Mengutip laporan The Japan Times pada Selasa (27/10/2026), Chiba meninggal akibat sindrom mielodisplasia, yakni kelainan darah yang berkaitan dengan gangguan fungsi sumsum tulang dalam menghasilkan sel darah sehat.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut dapat menyebabkan tubuh kekurangan sel darah yang berfungsi normal. Penderitanya berisiko mengalami anemia, infeksi berulang, hingga perdarahan, bergantung pada tingkat keparahan penyakit.

Kepergian Chiba menjadi kehilangan besar bagi industri komik Jepang. Sepanjang kariernya, ia tidak hanya melahirkan karya populer, tetapi juga membentuk perkembangan manga olahraga dan menginspirasi generasi komikus berikutnya.

Masa Kecil Tetsuya Chiba Ditempa Perang Dunia II

Tetsuya Chiba lahir di Tokyo pada 1939. Saat masih bayi, ia dibawa keluarganya pindah ke Semenanjung Korea. Ketika berusia sekitar dua tahun, keluarganya kembali berpindah ke Manchuria, wilayah di timur laut China yang saat itu berada di bawah pendudukan Jepang.

Di wilayah tersebut, Chiba mengalami langsung kekacauan pada penghujung Perang Dunia II. Ia dan keluarganya menghadapi situasi sulit yang diwarnai kekerasan serta penjarahan sebelum akhirnya kembali ke Jepang pada 1946.

Pengalaman masa kecil di tengah perang dan perjuangan menjalani kehidupan setelahnya menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Chiba. Setelah kembali ke Jepang, ketertarikannya terhadap dunia menggambar semakin berkembang.

Ia mulai terlibat dalam kelompok majalah komik sebelum akhirnya memasuki industri profesional. Pada usia 17 tahun, Chiba berhasil menjalani debut sebagai mangaka profesional, membuka jalan bagi karier panjang yang kemudian mengukuhkan namanya di dunia manga.

Karier Bersinar Lewat Karya Manga Populer

Nama Chiba mulai mendapat perhatian luas setelah meraih penghargaan manga anak-anak dari penerbit Kodansha pada 1962. Penghargaan tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang mengantarkannya menghasilkan berbagai karya terkenal.

Ia menciptakan Shiden-kai no Taka, manga yang mengangkat perjuangan pilot pada masa perang. Chiba juga menggarap Harris no Kaze, kisah olahraga yang kemudian diadaptasi menjadi serial anime televisi.

Namun, puncak popularitasnya datang pada 1968 ketika ia berkolaborasi dengan penulis Asao Takamori, yang dikenal dengan nama Ikki Kajiwara. Kolaborasi tersebut melahirkan Ashita no Joe, salah satu manga olahraga paling berpengaruh dalam sejarah komik Jepang.

Ashita no Joe Jadi Warisan Terbesar Chiba

Ashita no Joe mengisahkan perjalanan Joe Yabuki, seorang pemuda yang berjuang membangun kehidupannya melalui dunia tinju. Ceritanya tidak hanya menampilkan pertandingan di atas ring, tetapi juga menggambarkan perjuangan hidup, tekad, pengorbanan, dan hubungan antarmanusia.

Popularitas manga ini melesat dan ikut mendongkrak sirkulasi majalah Weekly Shonen Magazine. Kesuksesannya kemudian berlanjut melalui adaptasi anime televisi dan film live-action.

Salah satu peristiwa paling dikenang penggemar terjadi ketika Toru Rikiishi, rival Joe Yabuki, meninggal dalam cerita. Kisah tersebut begitu menyentuh pembaca hingga penerbit Kodansha menggelar upacara pemakaman simbolis di dunia nyata. Peristiwa itu menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional yang terbangun antara karakter manga dan para penggemarnya.

Selain Ashita no Joe, Chiba juga menghasilkan sejumlah karya lain, termasuk Notari Matsutaro yang mengangkat dunia sumo, Ashita Tenki ni Naare tentang golf, serta Ore wa Teppei yang berkisah mengenai kendo.

Beragam tema tersebut memperlihatkan kemampuannya mengembangkan cerita olahraga dengan karakter kuat dan perjuangan yang dekat dengan kehidupan pembaca.

Mangaka Pertama Penerima Order of Culture

Kontribusi Chiba tidak berhenti pada karya-karya yang ia ciptakan. Ia juga aktif mendukung perkembangan industri manga Jepang melalui berbagai peran organisasi dan pendidikan.

Ia pernah memimpin Asosiasi Kartunis Jepang serta berperan dalam membina generasi baru mangaka melalui kepemimpinannya di Universitas Seni Bunsei di Utsunomiya, Prefektur Tochigi.

Pengabdiannya mendapat pengakuan melalui sejumlah penghargaan negara. Chiba menerima Medali Pita Ungu pada 2002 dan Order of the Rising Sun, Gold Rays with Rosette pada 2012.

Puncak penghargaan tersebut datang pada 2024 ketika pemerintah Jepang menganugerahinya Order of Culture. Chiba tercatat sebagai mangaka pertama yang menerima penghargaan prestisius tersebut, sebuah pengakuan atas kontribusinya terhadap kebudayaan Jepang.

Chiba juga merupakan kakak dari mendiang Akio Chiba, yang turut berkiprah sebagai komikus.

Warisan Tetsuya Chiba bagi Dunia Manga

Bahkan pada masa tuanya, Chiba masih menyempatkan diri menuangkan pengalaman hidup melalui manga esai autobiografi. Karya tersebut menjadi bagian dari upayanya merekam perjalanan pribadi sekaligus membagikan perspektifnya kepada pembaca.

Pos terkait