Faktaindonesianews.com, Jakarta – Ekspansi digital PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kian agresif sepanjang 2025. Bank pelat merah yang dikenal sebagai bank wong cilik ini mencatat nilai transaksi di aplikasi BRImo menembus lebih dari Rp7.000 triliun. Lonjakan tersebut mempertegas arah transformasi digital BRI yang tidak hanya mendorong pertumbuhan transaksi, tetapi juga memperkuat struktur pendanaan.
Direktur Network & Retail Funding BRI, Aquarius Rudiantoro, mengungkapkan jumlah pengguna aktif BRImo meningkat 18,9% secara tahunan (yoy) menjadi 45,9 juta akun. Sejalan dengan kenaikan pengguna, nilai transaksi BRImo melonjak 26,1% yoy hingga mencapai Rp7.057 triliun.
“Pertumbuhan dana murah ditopang strategi digital channel,” ujarnya dalam konferensi pers kinerja keuangan 2025, Kamis (26/2/2026).
Tak hanya di segmen ritel, akselerasi digital juga terlihat pada layanan QLola yang menyasar nasabah menengah, komersial, hingga korporasi. Jumlah pengguna aktif QLola tumbuh 48,1% yoy menjadi 113 ribu, dengan volume transaksi naik 36,2% yoy hingga menyentuh Rp13.456 triliun. Capaian ini menunjukkan bahwa transformasi digital BRI menjangkau seluruh spektrum nasabah, dari UMKM hingga korporasi besar.
Dari sisi merchant, transaksi bisnis melalui jaringan BRI meningkat signifikan. Volume penjualan merchant tercatat naik 48,1% yoy menjadi Rp223,2 triliun. Sementara itu, transaksi QRIS BRI juga melesat. Sales volume tumbuh 100% yoy menjadi Rp85,6 triliun, dengan jumlah transaksi melonjak 127,5% yoy hingga lebih dari 782,8 miliar transaksi. Angka ini memperlihatkan semakin luasnya adopsi pembayaran digital di ekosistem BRI.
Di tengah kinerja yang menguat, BRI tetap menegaskan komitmennya terhadap prinsip keberlanjutan. Perseroan secara konsisten mengarahkan portofolio bisnisnya untuk mendukung kegiatan yang memberikan dampak sosial dan lingkungan positif, sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menambahkan bahwa strategi digital turut mengerek komposisi dana murah atau CASA (current account savings account). Jika pada 2024 rasio CASA berada di level 66,6% dari dana pihak ketiga (DPK), maka pada 2025 meningkat menjadi sekitar 71%.
Secara total, DPK BRI tumbuh 7,4% yoy menjadi Rp1.466,84 triliun secara konsolidasi. Giro melonjak 19,7% yoy dan tabungan naik 7,9% yoy, mencerminkan struktur pendanaan ritel yang semakin solid. Likuiditas pun tetap terjaga dengan loan to deposit ratio (LDR) di level 91,4%, kategori yang masih ample untuk menopang ekspansi kredit berkelanjutan.
Dengan transaksi digital yang terus meroket, penguatan dana murah, serta likuiditas yang sehat, BRI menunjukkan fondasi bisnis yang semakin kokoh.
