VinFast Belum Naikkan Harga Mobil Listrik Meski Rupiah Tertekan

Faktaindonesianews.com – VinFast memastikan belum akan menaikkan harga mobil listrik mereka di pasar Indonesia meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Namun demikian, produsen kendaraan listrik asal Vietnam tersebut tetap membuka kemungkinan penyesuaian harga apabila kondisi ekonomi global dan biaya produksi semakin membebani industri otomotif nasional.

Bacaan Lainnya

CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto mengatakan perusahaan masih memantau perkembangan fluktuasi nilai tukar mata uang dan dampaknya terhadap rantai pasok industri kendaraan listrik.

“Tentu itu sebagai fenomena global yang terus kami cermati. Kalau harga bahan bakunya meningkat harus dilakukan penyesuaian harga, tapi status per hari ini kami belum akan melakukan penyesuaian harga terlebih dahulu,” ujar Kariyanto di Jakarta, Kamis (21/5).

Menurut dia, VinFast masih melakukan perhitungan terhadap berbagai faktor sebelum mengambil keputusan terkait harga jual kendaraan listrik di Indonesia. Pasalnya, perusahaan masih bergantung pada impor sejumlah komponen kendaraan dari Vietnam sehingga gejolak kurs mata uang menjadi perhatian utama.

Kariyanto menjelaskan meskipun VinFast sudah memiliki fasilitas produksi di Subang, Jawa Barat, sebagian bahan baku dan komponen kendaraan masih didatangkan dari luar negeri.

“Karena memang banyak aspek, misalnya kita impor dari Vietnam, bahan baku dan lain sebagainya, kita masih mencermati,” katanya.

Ia menambahkan perusahaan tidak ingin tergesa-gesa menaikkan harga kendaraan karena keputusan tersebut bisa berdampak besar terhadap ekosistem bisnis, termasuk supplier dan mitra industri lainnya.

“Begitu kita melakukan penyesuaian harga, itu banyak efek turunannya, ke supplier, dan berbagai pihak yang terlibat, sehingga kami tidak ingin melakukan keputusan yang terburu-buru,” ujar Kariyanto.

Di tengah kondisi rupiah yang melemah, sejumlah produsen otomotif lain juga mulai menghitung ulang strategi harga kendaraan mereka di Indonesia.

Chery Sales Indonesia misalnya, mengaku tengah melakukan kalkulasi terkait potensi kenaikan harga mobil akibat meningkatnya biaya produksi dan operasional.

Country Director Chery Sales Indonesia, Zeng Shuo mengatakan perusahaan masih mengevaluasi dampak kenaikan biaya terhadap harga kendaraan di pasar domestik.

“Kita lagi coba kalkulasi, tapi kalau biaya tetap naik ada kemungkinan harganya naik juga,” kata Zeng Shuo.

Sementara itu BYD Motors Indonesia juga menyampaikan pihaknya terus mengkaji dampak kondisi ekonomi global terhadap strategi bisnis perusahaan di Indonesia.

Kepala Hubungan Masyarakat dan Pemerintah PT BYD Motors Indonesia, Luther Panjaitan mengatakan hingga saat ini BYD masih percaya diri dengan strategi produk dan promosi yang dimiliki perusahaan.

“Kalau ditanya potensi kenaikan harga mungkin saja, tapi saat ini tidak dalam strategi jangka pendek kami,” ujar Luther.

Kondisi pelemahan rupiah memang menjadi tantangan tersendiri bagi industri otomotif nasional, khususnya merek kendaraan listrik yang masih mengandalkan impor komponen dan bahan baku dari luar negeri. Naiknya nilai tukar dolar dapat memicu peningkatan biaya produksi, logistik, hingga harga jual kendaraan.

Meski begitu, banyak produsen kendaraan listrik tampaknya masih memilih menahan harga demi menjaga daya beli konsumen dan mempertahankan momentum pertumbuhan pasar mobil listrik di Indonesia.

Pos terkait