Bandung, Faktaindonesianews.com – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa kebebasan finansial tidak bisa diraih secara instan tanpa dibarengi pemahaman yang kuat tentang pengelolaan keuangan dan literasi finansial. Pesan tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Seminar Kebebasan Finansial Melalui Entrepreneurship dan Bisnis yang digelar oleh Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) di Graha Sanusi, Sabtu (24/1/2026).
Dalam pemaparannya, Farhan menekankan bahwa istilah kebebasan finansial kerap disalahartikan sebagai kondisi yang dapat dicapai dengan mudah. Padahal, menurutnya, kebebasan tersebut justru menuntut disiplin, perencanaan, dan pemahaman mendalam terhadap keuangan pribadi.
“Kebebasan finansial tidak didapatkan dengan cara yang bebas. Kebebasan finansial harus diawali dengan modal literasi finansial. Tanpa itu, semua yang kita miliki tidak akan bertahan lama,” ujar Farhan di hadapan peserta seminar.
Farhan mengingatkan para profesional yang saat ini berada di usia produktif agar mulai menyiapkan strategi keuangan jangka panjang. Ia mendorong peserta untuk tidak hanya bergantung pada gaji, tetapi juga mulai memikirkan kewirausahaan maupun pemilihan instrumen investasi finansial yang tepat sebagai bekal setelah masa produktif berakhir.
Menurutnya, tantangan finansial tidak berhenti ketika seseorang masih bekerja. Justru, risiko terbesar muncul ketika produktivitas menurun sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Karena itu, kemampuan mengelola tabungan dan aset menjadi faktor krusial agar dana tidak habis dalam waktu singkat serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Panjang umur belum tentu produktif. Produktivitas itulah yang harus kita kejar. Kadang kita harus menciptakan kolam-kolam sendiri untuk mendapatkan ikan sebagai sumber kehidupan,” katanya, mengibaratkan pentingnya sumber penghasilan berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Farhan juga memaparkan kondisi kemiskinan di Kota Bandung yang menunjukkan tren positif. Pada semester pertama 2025, tingkat kemiskinan tercatat 3,78 persen atau sekitar 99 ribu orang. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa garis kemiskinan justru mengalami kenaikan.
“Untuk masuk kategori miskin saja, pendapatan minimal sekarang Rp644.000 per bulan. Artinya, daya beli kita per hari maksimal hanya sekitar Rp35.000,” jelasnya.
Kondisi ini, menurut Farhan, membuat edukasi finansial semakin relevan, terutama di tengah menurunnya daya beli, meningkatnya risiko kelumpuhan finansial individu, serta tantangan generasi muda dalam memiliki hunian layak. Ia juga menyoroti semakin dominannya pekerja informal dan gig worker dalam struktur pasar kerja nasional.
Farhan menegaskan bahwa kelas menengah harus menjadi fondasi kekuatan ekonomi, dan kunci utama dari kekuatan tersebut adalah kebebasan finansial yang direncanakan dengan matang.
Seminar ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri PANRB Rini Widyantini, Ketua Dewan Pembina IKA Unpad Burhanuddin Abdullah, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor, serta pimpinan BUMN dan industri jasa keuangan. Kegiatan ini juga dapat disaksikan ulang melalui kanal YouTube resmi IKA Unpad.






