Bandung, Faktaindonesianews.com – Sore ini, publik disuguhi seremoni pelantikan Tim Reformasi Polri. Nama besar, niat mulia, dan janji perubahan kembali digaungkan. Tapi, entah mengapa, hati sebagian rakyat justru hambar. Sebab, terlalu sering kata “reformasi” dikumandangkan tanpa ruh, sementara di lapangan, perilaku masih sama: kekuasaan dijalankan dengan gaya lama.
Saya teringat masa muda dulu. Ketika seorang aparat merokok di mobil dinas dengan pakaian dinas lengkap, itu sudah dianggap pelanggaran etika. Mobil itu milik negara, simbol kepercayaan rakyat. Menyalakan rokok di dalamnya dianggap bentuk ketidakhormatan terhadap marwah jabatan. Tapi kini, tontonan seperti itu menjadi hal biasa. Bahkan merek rokoknya pun bukan sembarangan — yang punya nilai jual, dan juga terkenal dengan logo cowboy, tanda gaya hidup yang semakin jauh dari rakyat kebanyakan.
Di situ letak persoalannya. Reformasi tidak akan hidup jika hal-hal kecil semacam ini dibiarkan. Karena budaya besar dibentuk oleh kebiasaan kecil. Kalau di ruang kecil saja etika diabaikan, bagaimana mungkin di ruang besar kita bicara moralitas dan integritas?
Kapolri boleh berganti, tim reformasi boleh dibentuk, tapi selama “rasa pantas” itu mati, perubahan hanya berhenti di spanduk dan pidato. Yang kita butuhkan bukan tim baru, melainkan kesadaran lama: bahwa kehormatan aparat negara bukan diukur dari merek rokok atau mobil dinas, melainkan dari cara mereka menjaga marwah jabatan di hadapan rakyat.
Reformasi sejati bukan tentang menciptakan tim, tapi menyalakan nurani. Karena musuh terbesar Polri hari ini bukan kejahatan di luar sana — melainkan budaya yang telah membuat perilaku tak pantas terasa wajar./djohar






