Farhan Ajak NU Perkuat Pemberdayaan Masyarakat hingga Tingkat RW di Kota Bandung

Faktaindonesianews.com, Bandung – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendorong penguatan kolaborasi antara Pemerintah Kota Bandung dan Nahdlatul Ulama (NU) untuk menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Dengan jaringan yang menjangkau pesantren, masjid, hingga lingkungan rukun warga (RW), NU dinilai memiliki potensi besar dalam memperluas pemberdayaan masyarakat berbasis kewilayahan.

Farhan menyampaikan hal tersebut saat membuka Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) II PCNU Kota Bandung di Aula Kantor PCNU Kota Bandung, Minggu (25/10/2026).

Bacaan Lainnya

Menurut Farhan, kemitraan antara pemerintah dan ulama menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kolaborasi tersebut diperlukan agar kebijakan publik tidak hanya memenuhi ketentuan hukum, tetapi juga mempertimbangkan nilai keagamaan, aspirasi, dan kebutuhan masyarakat.

Ia menekankan pentingnya melibatkan ulama sejak awal proses perumusan kebijakan. Dengan komunikasi yang terbuka, pemerintah dapat memperoleh masukan sekaligus mengidentifikasi potensi persoalan sebelum kebijakan diterapkan.

“Kerja sama atau kemitraan ini bersifat sangat strategis. Apa yang dilakukan oleh pemerintah itu harus mendapatkan validasi dari ulama,” ujar Farhan.

Ia menambahkan, hubungan antara pemerintah dan ulama perlu berlangsung secara berkelanjutan, bukan hanya melalui pertemuan formal. Jika suatu kebijakan berpotensi bertentangan dengan prinsip atau ketentuan hukum tertentu, para pihak diharapkan dapat memberikan peringatan sekaligus mencari solusi bersama.

“Kalau dianggap berpotensi melanggar sebuah prinsip atau mungkin melanggar sebuah hukum tertentu, maka dari awal sudah ada peringatan. Dan yang saya suka adalah tidak hanya peringatan, tapi kita sama-sama cari solusi,” katanya.

NU Didorong Jadi Mitra Pemberdayaan Masyarakat

Farhan menilai NU memiliki kekuatan sosial dan keagamaan yang dapat mendukung berbagai program pemberdayaan masyarakat. Jaringan pesantren, kegiatan pengajian, masjid, serta tradisi keagamaan yang tumbuh di tengah warga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kepedulian sosial, partisipasi masyarakat, dan kemandirian lingkungan.

Karena itu, ia berharap PCNU Kota Bandung dapat terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah.

“NU harus bisa menjadi, dalam tanda kutip, agen pemberdayaan pemerintah,” ucapnya.

Menurut Farhan, pemberdayaan berbasis komunitas akan lebih efektif apabila memanfaatkan jaringan yang telah terbentuk dan dipercaya masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, program pemerintah diharapkan dapat menjangkau warga secara lebih luas, termasuk dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan persoalan sehari-hari.

Sinergi ini juga membuka ruang bagi pengurus NU di tingkat lokal untuk menyampaikan aspirasi masyarakat sekaligus membantu menggerakkan partisipasi warga dalam pembangunan lingkungan.

Siskamling Siaga Bencana Perkuat Penyelesaian Masalah di Wilayah

Sejalan dengan upaya tersebut, Pemkot Bandung terus mendorong penyelesaian persoalan masyarakat melalui kolaborasi di tingkat kewilayahan. Camat, lurah, pengurus RW, dan warga dilibatkan untuk mengenali masalah serta merumuskan langkah penanganan sesuai kondisi setempat.

Salah satu upaya yang disampaikan Farhan adalah program Siskamling Siaga Bencana. Melalui program ini, ia turun langsung ke kelurahan untuk berdiskusi dengan lurah dan para ketua RW, sekaligus mengidentifikasi persoalan yang membutuhkan perhatian pemerintah.

Farhan menjelaskan, pendekatan kewilayahan bertujuan membangun kepemimpinan yang responsif dan memperkuat kemampuan aparatur serta masyarakat dalam mencari solusi atas permasalahan di lingkungannya.

Ia juga melihat adanya perkembangan dalam pembagian peran kepemimpinan di tingkat daerah. Camat dan lurah diharapkan semakin aktif mengambil inisiatif sehingga penyelesaian masalah tidak selalu bergantung pada wali kota.

“Kerja keras saya sebagai seorang wali kota ini makin lama makin ringan. Karena sekarang semangat kepemimpinan sudah menular ke camat dan lurah,” tuturnya.

Menurutnya, keterlibatan langsung masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendekatan tersebut. Warga yang memahami karakteristik lingkungannya dinilai memiliki peran besar dalam merumuskan solusi yang tepat dan berkelanjutan.

Jaringan Masjid dan RW Jadi Kekuatan Kolaborasi

Farhan menyoroti luasnya jaringan NU yang menjangkau hingga tingkat masjid dan RW sebagai peluang untuk memperkuat gerakan bersama dalam menyelesaikan persoalan lokal.

Ia berharap para kiai, pengurus NU, dan tokoh masyarakat dapat mendorong semangat gotong royong serta mengajak warga terlibat aktif dalam pembangunan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan program pemerintah secara lebih tepat sasaran.

“Dengan jaringan Nahdlatul Ulama, para kiai sekalian sampai ke level-level masjid RW, kalau satu RW bisa lebih dari dua masjid, ini akan bisa membantu membangkitkan semangat untuk bersama-sama menyelesaikan masalah setempat,” ujarnya.

Pos terkait