Bandung, Faktaindonsianws.com – Kelurahan Gempol Sari, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, terus memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya melalui inovasi Gempolin. Program yang berjalan sekitar enam bulan tersebut mampu menangani sekitar 200 kilogram sampah organik per hari sekaligus mendorong perubahan kebiasaan warga dalam memilah sampah.
Lurah Gempol Sari Ruslan Adidjaja mengatakan Gempolin hadir untuk menangani sampah organik yang belum terakomodasi melalui program pengelolaan sampah lainnya.
Program tersebut tidak hanya mengandalkan pengangkutan sampah. Petugas dan kader terlebih dahulu melakukan pendataan warga, memberikan edukasi, mendorong pemilahan, kemudian mengolah sampah organik di tingkat kawasan.
“Gempolin itu salah satu program untuk penanganan sampah, khususnya organik di kelurahan. Warga didata dulu, yang sudah memilah maupun yang belum, kemudian kita edukasi,” kata Ruslan di Kelurahan Gempol Sari, Kamis (20/8/2026).
Gempolin Olah 200 Kg Sampah Organik Setiap Hari
Sampah organik yang sudah dipilah warga kemudian diambil petugas Gober untuk diolah. Sebagian sampah dimanfaatkan sebagai pakan maggot, sedangkan hasil pengolahannya dapat dikembangkan menjadi kompos.
Ruslan mengatakan Gempolin menangani sampah organik yang masih tersisa setelah program Gaslah berjalan.
Menurutnya, kedua program tersebut memiliki fungsi yang berbeda. Gaslah merupakan program Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dengan petugas di setiap RW, sedangkan Gempolin secara khusus menyasar sampah organik yang belum terakomodasi.
“Kalau untuk organik, selain Gaslah dikasih Gempolin. Alhamdulillah sudah terselesaikan,” ujarnya.
Sekitar enam petugas Gober bertugas menarik sampah organik dari warga. Petugas lainnya menjalankan pekerjaan berbeda, termasuk mengelola maggot dan menangani pekerjaan gorong-gorong.
90 Persen Warga Sudah Memilah Sampah
Ruslan menyebut perubahan kebiasaan masyarakat menjadi tantangan terbesar dalam menjalankan Gempolin. Namun, edukasi dan pendampingan secara berkelanjutan mulai menunjukkan hasil.
Saat ini, hampir 90 persen warga Gempol Sari telah memilah sampah.
“Alhamdulillah sekarang hampir 90 persen lebih warga sudah memilah sampah,” kata Ruslan.
Peningkatan partisipasi tersebut tidak terlepas dari pendekatan langsung yang dilakukan kader kepada masyarakat. Pemerintah kewilayahan tidak hanya mengandalkan sosialisasi dalam pertemuan warga, tetapi mendatangi rumah secara langsung.
Gempolin Bukan Sekadar Aplikasi
Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Gempol Sari Wahidin Sinaga menjelaskan bahwa Gempolin bukan sekadar aplikasi. Program tersebut merupakan gerakan yang menggabungkan pendataan, pemilahan, pengolahan hingga pemanfaatan sampah.
“Gempolin itu sebenarnya selain sebagai aplikasi juga sebagai gerakan. Gempolin merupakan singkatan dari gerakan mengolah data, memilah, mengolah dan memanfaatkan sampah,” jelas Wahidin.
Konsep tersebut dikembangkan dari prinsip Kang Pisman dengan tujuan menyelesaikan sampah organik sedekat mungkin dengan sumbernya. Dengan demikian, volume sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA) dapat ditekan.
Data 2.093 Kartu Keluarga Masuk Sistem
Pendataan menjadi salah satu bagian penting dalam Gempolin. Kader yang berasal dari kelompok tani (Poktan) dan Dasawisma di tingkat RT turun langsung ke rumah warga.
Mereka mencatat apakah keluarga sudah memilah sampah atau masih membutuhkan edukasi dan pendampingan.
Hingga kini, pendataan telah mencakup 2.093 kartu keluarga, atau sekitar 63 persen dari total kartu keluarga di Kelurahan Gempol Sari.
Data tersebut kemudian masuk ke dalam aplikasi Gempolin. Pemerintah kewilayahan dapat melihat perkembangan pemilahan sampah hingga tingkat RT dan RW.
“Dengan adanya Gempolin, kita tahu berapa orang yang sudah memilah. Kita juga punya petanya, sehingga terlihat sebaran warga yang sudah memilah,” tutur Wahidin.
Gempol Sari juga melibatkan sekitar 300 kader Gempolin yang tersebar di 10 RW dan 67 RT.
Para kader berperan langsung dalam memberikan edukasi sekaligus memantau penerapan pemilahan sampah di rumah warga.
“Kalau sosialisasi dikumpulkan banyak biasanya kurang efektif. Kita punya kader-kader Gempolin yang berkeliling, mengetuk pintu untuk melihat kondisi keluarganya sudah memilah atau belum. Jadi diedukasi langsung,” katanya.
Metode Pengolahan Disesuaikan Kondisi RT
Gempol Sari tidak menerapkan satu metode pengolahan sampah untuk seluruh wilayah. Kondisi lingkungan dan keterbatasan lahan membuat setiap RT membutuhkan pendekatan berbeda.
Gempolin kemudian menyesuaikan metode pengolahan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah. Sejumlah metode yang digunakan antara lain komposter, bata terawang, loseda, rumah maggot dan lubang kompos.
“Dengan Gempolin ini kita tidak hanya memberikan sarana prasarana ke RW tetapi juga melihat kondisi RW dan RT tersebut. Semuanya disesuaikan dengan kondisi topologinya,” ujar Wahidin.
Hingga saat ini, sekitar 21 RT telah terkonfirmasi bekerja sama dan masuk dalam sistem Gempolin. Ratusan warga juga telah mendaftarkan diri untuk mengikuti gerakan pemilahan sampah.






