Jakarta, Faktaindonesianews.com – Harga minyak dunia kembali merangkak naik pada perdagangan Kamis (20/3), didorong oleh penurunan stok bahan bakar Amerika Serikat (AS) yang lebih besar dari perkiraan serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent naik 40 sen atau 0,57 persen menjadi US$71,18 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 34 sen atau 0,51 persen menjadi US$67,50 per barel.
Laporan pemerintah AS menunjukkan persediaan sulingan, termasuk solar dan minyak pemanas, turun hingga 2,8 juta barel dalam sepekan terakhir, jauh melampaui prediksi analis yang hanya memperkirakan penurunan 300 ribu barel. Sebaliknya, stok minyak mentah AS justru meningkat 1,7 juta barel, lebih tinggi dari perkiraan kenaikan 512 ribu barel.
Ketegangan Timur Tengah Angkat Premi Risiko
Selain faktor pasokan, situasi geopolitik turut meningkatkan premi risiko minyak global. Israel melancarkan operasi darat baru di Gaza pada Rabu (20/3), melanggar gencatan senjata yang telah berlangsung hampir dua bulan. Serangan ini meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut.
Sementara itu, AS melanjutkan serangan udara terhadap target Houthi di Yaman, sebagai respons atas serangan kelompok tersebut terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Mantan Presiden AS, Donald Trump, juga menegaskan akan meminta pertanggungjawaban Iran atas keterlibatan kelompok Houthi dalam serangan di masa mendatang.
Potensi Perubahan Pasar Minyak Global
Dari Eropa, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut ada kemungkinan penghentian serangan terhadap fasilitas energi dalam perang dengan Rusia. Hal ini membuka peluang bagi tercapainya gencatan senjata serta kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap Rusia, yang berpotensi mengembalikan pasokan minyak dari negara tersebut ke pasar global.
Sementara itu, Utusan Timur Tengah Donald Trump, Steve Witkoff, mengonfirmasi rencana pertemuan pejabat AS dan Rusia di Arab Saudi pada Minggu (23/3) untuk membahas upaya penghentian perang.
Dari Amerika Latin, CEO Chevron meminta pemerintahan Trump memperpanjang batas waktu penghentian operasi di Venezuela selama 60 hari, melebihi batas awal yang ditetapkan pada 1 April.
Dengan kondisi pasokan yang menurun dan konflik geopolitik yang terus memanas, pasar minyak global masih berada dalam tekanan, dan pergerakan harga ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan politik serta kebijakan energi negara-negara besar.






