Jakarta, Faktaindonesianews.com – Di tengah dinamika global, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan resiliensi yang kuat. Juga di topang oleh permintaan domestik yang terjaga, stabilitas ekonomi, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter. APBN terus di kelola secara kredibel dan terukur untuk menumbuhkan aktivitas ekonomi, mendorong investasi, melindungi masyarakat. Dan juga menjaga daya beli dan kesejahteraan, serta mendukung agenda pembangunan prioritas Pemerintah secara berkelanjutan.
Hingga 31 Agustus 2026, kinerja APBN tetap terjaga dan solid, di topang oleh Pendapatan Negara yang tumbuh positif serta Belanja Negara yang terus di optimalkan secara efektif dan terukur. Pelaksanaan anggaran di arahkan untuk memperkuat daya dorong APBN terhadap pertumbuhan ekonomi, menjaga perlindungan bagi masyarakat, serta mendukung agenda prioritas nasional, dengan tetap menjunjung prinsip kehatihatian dan keberlanjutan fiskal.
Realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp2.055,6 triliun atau 65,2% dari target APBN 2026. Realisasi ini tumbuh 25,4% di bandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut terutama di dorong oleh Penerimaan Pajak sebesar Rp1.409,0 triliun dengan pertumbuhan 24,1% (yoy), Penerimaan Kepabeanan dan Cukai sebesar Rp210,2 triliun yang tumbuh 7,8% (yoy), serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp435,1 triliun yang tumbuh 41,7% (yoy).
Sementara itu, Belanja Negara terealisasi sebesar Rp2.295,7 triliun atau 59,7% APBN, tumbuh 17,1% di bandingkan periode yang sama tahun lalu. Belanja Pemerintah Pusat (BPP) mencapai Rp1.791,5 triliun, yang terdiri atas Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp912,4 triliun atau tumbuh 33,0% (yoy) dan Belanja non-K/L sebesar Rp879,1 triliun atau tumbuh 25,1% (yoy). Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi Rp504,3 triliun atau 72,8% dari target APBN, dengan pertumbuhan lebih rendah 11,8% (yoy). Pelaksanaan TKD terus di kelola agar tetap mendukung layanan dasar serta pembangunan di daerah.
Tetap Terjaga dan Di kelola Secara Kredibel.
Kinerja fiskal tetap terjaga dan di kelola secara kredibel, tecermin dari defisit APBN sebesar 0,93% terhadap PDB, sesuai dengan lintasan target APBN 2026. Selain itu, APBN mencatat surplus keseimbangan primer sebesar Rp154,0 triliun. Perkembangan ini menunjukkan pengelolaan fiskal di lakukan secara prudent untuk menjaga kesinambungan fiskal.
Kinerja sektor-sektor ekonomi utama menunjukkan pertumbuhan yang positif dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan penerimaan pajak. Penerimaan pajak sektor perdagangan tumbuh kuat sebesar 41,2%, di ikuti pertambangan 44,0% dan industri pengolahan 25,4%. Pertumbuhan ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang semakin menguat, di dukung oleh peningkatan perdagangan, industri, pertambangan, serta aktivitas sektor pendukung lainnya.
Perekonomian nasional terus menunjukkan kinerja yang positif dan terjaga. Pertumbuhan ekonomi selama Semester I 2026 mencapai 5,45% di topang permintaan domestik yang tetap solid. Di sisi eksternal, neraca perdagangan JanuariJuli 2026 mencatat surplus USD3,7 miliar, mencerminkan fundamental ekonomi yang tetap solid dan resilien.
Inflasi tetap terkendali pada Agustus 2026 sebesar 3,19% (yoy), di tengah dinamika harga pangan dan komoditas global. Inflasi inti relatif stabil pada 2,92%, sementara perlambatan inflasi administered prices menjadi 3,32% turut menunjukkan tekanan harga yang terkendali. Kondisi ini mendukung stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan sekaligus kredibilitas APBN. Sehingga stabilitas ekonomi, akselerasi pembangunan, dan kepercayaan pasar dapat di jaga secara simultan. APBN akan terus di optimalkan untuk mendorong aktivitas ekonomi dan investasi. Juga mendukung agenda pembangunan prioritas Pemerintah, serta memperkuat pertumbuhan yang berkelanjutan.
APBN tetap hadir untuk melindungi masyarakat, menjaga daya beli dan kesejahteraan, serta mendorong pemberdayaan ekonomi. Kredibilitas APBN akan terus di jaga melalui pendapatan negara yang di perkuat, belanja yang semakin efektif dan produktif, serta defisit yang di kelola secara sehat, pruden, dan terkendali






