BANDUNG, Faktaindonesiaews.com – Laju inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Kota Bandung pada Juli 2025 tercatat 1,96 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 108,12. Angka ini menunjukkan bahwa secara umum stabilitas harga di Kota Bandung masih terjaga, meski terdapat tekanan pada beberapa kelompok pengeluaran.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung merinci, inflasi bulanan (month to month/m-to-m) pada Juli sebesar 0,50 persen, sementara inflasi sepanjang tahun berjalan (year to date/y-to-d) mencapai 1,44 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi bulanan tertinggi, dengan andil 0,24 persen, dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar rumah tangga.
Secara tahunan, tiga kelompok utama penyumbang inflasi di antaranya:
-
Makanan, Minuman, dan Tembakau: andil 0,66 persen, dipicu oleh naiknya harga minyak goreng.
-
Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga: menyumbang 0,64 persen.
-
Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya: andil 0,49 persen, didominasi oleh emas perhiasan.
“Inflasi ini menunjukkan adanya tekanan harga pada kebutuhan rumah tangga serta komoditas non-pokok, namun masih dalam batas moderat di bawah 2 persen,” terang BPS Kota Bandung dalam laporannya.
Tingkat Hunian Hotel Menurun
Berbeda dengan stabilnya inflasi, sektor pariwisata dan perhotelan menunjukkan tren penurunan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Kota Bandung pada Juni 2025 tercatat hanya 52,43 persen, turun 0,60 poin dibandingkan bulan Mei yang mencapai 53,03 persen.
Penurunan terjadi baik di hotel berbintang maupun nonbintang. TPK hotel berbintang pada Juni berada di angka 56,57 persen, turun 0,34 poin dari bulan sebelumnya. Sementara hotel nonbintang lebih tertekan dengan penurunan 1,67 poin, menjadi 36,93 persen.
Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) di hotel berbintang tercatat 1,45 malam, sedangkan di hotel nonbintang 1,30 malam. Tamu asing memiliki RLMT lebih tinggi yakni 2,05 malam, dibandingkan tamu domestik yang hanya 1,41 malam.
